Close sidebar
Advertisement Advertisement
Daerah Pendidikan Sulsel

siswa SD di pinrang Tempuh 5 Kilometer Demi Sekolah, Jalan Rusak Jadi Penghalang

Foto Susana belajar di kelas jauh SD Inpres Kalosi Kabupaten Pinrang.

Pinrang – Puluhan siswa SD di Kampung Taba, Desa Basseang, Kabupaten Pinrang, harus berjalan kaki sejauh lima kilometer demi bisa belajar di sekolah. Jalan rusak dan keterbatasan infrastruktur memaksa mereka menempuh medan sulit karena kendaraan tidak bisa melintas.

Pj Kepala Desa Basseang, Harianto, menjelaskan bahwa beberapa siswa SD dari kampung tersebut memang harus menempuh jarak yang cukup jauh. Menurutnya, kondisi jalan yang berlubang dan tidak rata membuat para orang tua kesulitan mengantar anak-anak menggunakan motor atau mobil. “Memang tidak semua, tapi ada beberapa anak dari Kampung Taba yang jalan kaki karena kondisi jalan masih buruk,” ucap Harianto, Senin (28/7).

Mahasiswa Teknik Komputer UNM Borong Penghargaan

Dana Terbatas, Pengerjaan Jalan Terbengkalai

Warga desa telah mencor sebagian jalan, namun pekerjaan tersebut belum menyeluruh karena dana desa masih terbatas. Meski begitu, anak-anak tetap berangkat sejak subuh agar mereka bisa tiba tepat waktu di sekolah.

Desa Basseang memiliki tiga sekolah dasar dan satu sekolah menengah pertama. Namun, letak rumah yang jauh dari sekolah membuat beberapa siswa tetap harus berjalan kaki, terutama mereka yang tinggal di Kampung Taba.

Kepala SD Inpres Kalosi, Herianto, menyebut sekitar 20 siswa dari Kampung Taba mengikuti kegiatan belajar di kelas jauh yang terletak di Kalosi. “Beberapa memang diantar, tapi banyak juga yang tetap berjalan kaki setiap hari,” tuturnya.

Pelantikan Kemendiktisaintek Tekankan Pelayanan

Menurut Herianto, kondisi kelas jauh tersebut cukup memprihatinkan. Bangunan berdiri di lahan sempit dan dikelilingi jurang, sehingga sekolah tidak memiliki ruang untuk upacara atau aktivitas luar kelas. Ia pun berinisiatif menghubungi warga dan meminta mereka menyediakan lahan yang lebih aman.

Ia berharap warga bersedia menghibahkan tanah agar pihak sekolah bisa membangun ruang kelas baru di lokasi yang lebih layak. “Saya sudah minta warga kampung untuk mencarikan lahan. Kalau ada akta hibah, pemerintah bisa langsung membangun tanpa harus membeli,” ungkapnya.

Perjuangan anak-anak Kampung Taba mencerminkan semangat belajar yang luar biasa di tengah berbagai keterbatasan. Pemerintah dan masyarakat perlu memberikan perhatian nyata agar pendidikan di daerah pelosok dapat terus berkembang secara adil dan merata.

Kolaborasi FT UNM Lewat Outbound

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *