Bengkulu – Kasus cacing gelang pada anak kembali terjadi di Indonesia. Seorang balita berusia 1 tahun 8 bulan, Khaira Nur Sabrina, mengeluarkan cacing gelang (Ascaris lumbricoides) dari mulut dan hidung saat menjalani perawatan di rumah sakit. Kondisinya memprihatinkan karena berat badan rendah, anemia, leukosit tinggi, serta gula darah mencapai 270 mg/dL. Hasil rontgen juga menemukan larva di paru-parunya.
Kakaknya yang berusia 4 tahun, Aprillia, ikut terinfeksi cacingan. Dokter merujuk keduanya ke RSUD Bengkulu agar mendapat perawatan lengkap. Kepala Dinas Kesehatan Seluma, Rudi Syawaludin, menegaskan kasus ini butuh perhatian serius supaya pasien segera pulih.
Bahaya Infeksi Cacing Gelang
Ahli parasitologi FKUI, Prof. dr. Saleha Sungkar, menjelaskan bahwa cacing gelang pada anak bisa menyebabkan malnutrisi, anemia, dan penurunan daya tahan tubuh. Cacing dewasa hidup di usus dan menyerap nutrisi, sementara larva bermigrasi ke paru-paru hingga memicu batuk serta gangguan napas.
Telur cacing biasanya masuk saat anak bermain di tanah terkontaminasi. Anak yang tidak mencuci tangan dapat menelan telur bersama makanan. Dari usus, larva masuk ke pembuluh darah, lalu ke paru-paru, kemudian kembali ke usus untuk tumbuh menjadi cacing dewasa.
Pencegahan dan Penanganan
Orang tua perlu mencegah cacingan dengan membiasakan anak mencuci tangan, memakai alas kaki, dan mencuci bersih sayur serta buah. Sanitasi lingkungan yang baik juga penting agar telur cacing tidak menyebar. Program obat cacing rutin sangat membantu anak balita dan usia sekolah.
Untuk kasus berat seperti Khaira, dokter memberi obat antiparasit, menambah asupan gizi, serta menangani paru-paru supaya anak pulih lebih cepat.





Komentar