Close sidebar
Advertisement Advertisement
Daerah Sulsel

Perjuangan Gila! Guru Luwu Hadapi Jalan Maut Demi Anak Didiknya

Potret guru pedalaman Asmiati di SDN 666 Pangiu, Bastem Utara, Luwu, yang menempuh jalan berbahaya dan tidur di kelas demi mengajar muridnya.
Asmiati, guru pedalaman di SDN 666 Pangiu, Bastem Utara, Luwu, melewati jalan ekstrem, membayar ojek Rp120 ribu, dan tinggal di ruang kelas demi mengajar 52 murid setiap hari.

LuwuGuru terpencil Luwu bernama Asmiati Abdullah terus menunjukkan dedikasinya sebagai pendidik di SDN 666 Pangiu, Bastem Utara, Luwu. Ia mengajar di wilayah pegunungan dengan kondisi serba terbatas dan risiko perjalanan yang tinggi. Setiap hari ia memastikan dirinya hadir tepat waktu meski akses menuju sekolah sangat sulit.

Akses Jalan Ekstrem Menguji Keteguhan guru terpencil di Luwu

Asmiati yang berusia 51 tahun memilih tidur di ruang kelas agar selalu tiba lebih awal. Lalu, ia menempuh jalur berbatu dan tanah liat yang hanya bisa dilewati mobil 4×4 atau sepeda motor. “Kalau hujan, jalanan langsung licin dan sangat berbahaya,” ujarnya.

Fakultas Teknik UNM Gelar Pelatihan Penulisan Berita

Pada 2022, ia menerima pengangkatan sebagai PPPK setelah 18 tahun mengajar di SDN 20 Cimpu. Ia mengira lokasi sekolah barunya berada di Walenrang, tetapi kenyataannya ia harus menempuh 80 kilometer menuju Desa Karatuan, Bastem Utara.

Perjalanan Pertama Jadi Ujian Berat

Perjalanan pertamanya langsung membuatnya kaget. Mobil keluarga tidak sanggup menembus jalan licin, sehingga ia menyewa motor dan meminta adiknya membonceng hingga ke sekolah. “Alhamdulillah sampai, tetapi medannya benar-benar ekstrem,” katanya.

Ia juga pernah jatuh dari motor saat melewati jalur berbatu. Insiden itu membuat kakinya cedera selama sepekan. Sejak saat itu, ia memilih jasa ojek dengan biaya Rp120–150 ribu demi keselamatan. “Saya lebih memilih mengeluarkan uang daripada mempertaruhkan nyawa,” tegasnya.

Galeri Colli Pakue Sambut FSD Drawing Day

Tinggal di Ruang Kelas Demi Keselamatan

Untuk mengurangi biaya perjalanan dan menghindari risiko, Asmiati tinggal di sekolah. Ia mengubah ruang kelas berukuran 6×6 meter menjadi tempat tinggal sederhana bersama tiga guru lain. Mereka memasang kain sebagai sekat dan menjadikan ruangan itu sebagai tempat tidur sekaligus dapur.

Selama dua tahun, mereka memakai turbin air sebagai sumber listrik. Ketika turbin rusak, seluruh sekolah langsung gelap. Setelah itu, PLN akhirnya masuk ke wilayah tersebut dan membantu aktivitas mereka.

Semangat Mengajar Tak Pernah Pudar

Walau kondisi sangat terbatas, Asmiati tetap mengajar pelajaran agama untuk 52 murid dari kelas 1 hingga 6. Ia merasa murid-muridnya menunjukkan antusias tinggi karena mereka datang ke sekolah sejak pukul 06.00. “Udara pagi sangat segar dan suasananya tenang,” ujarnya sambil tersenyum.

Mahasiswa UIN Alauddin Makassar Raih Juara 1 Favorit Poster Nasional Business Plan Competition

Sebagai guru terpencil di Luwu, Asmiati berharap pemerintah menambah ruang kelas dan menyediakan rumah dinas agar guru-guru bisa mengajar dengan lebih aman dan nyaman.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *