Maros – Anak-anak sekolah di Dusun Makmur, Desa Bontomanurung, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, setiap hari menyeberangi sungai menggunakan gondola untuk menuju sekolah. Warga menegaskan bahwa akses jembatan permanen sangat dibutuhkan agar anak-anak tidak lagi bergantung pada gondola.
Gondola yang menggantung pada tali sepanjang 400 meter ini sudah beroperasi lebih dari dua tahun. Pemilik tanah membangun gondola tersebut karena tidak ada akses jembatan permanen yang menghubungkan Desa Bontomanurung dan Desa Bontomatinggi.
Farel, siswa kelas 3 SD, menceritakan bahwa ia bersama teman-temannya selalu bergantian menarik gondola secara manual agar bisa menyeberang.
“Biasanya kami berangkat jam 06.30 dan tiba di sekolah sekitar jam 08.30. Kalau air sungai naik, saya sering tidak sekolah karena takut menyeberang,” ujar Farel, Rabu (27/8/2025).
Misra, murid lain, juga menegaskan bahwa gondola menjadi satu-satunya akses untuk mencapai sekolah.
“Mau tidak mau lewat sini, karena tidak ada jalur lain,” kata Misra.
Sekretaris Desa Bontomanurung, Yustandi, menjelaskan bahwa anak sekolah maupun warga sama-sama memanfaatkan gondola untuk mengangkut hasil bumi.
“Kalau air surut, masyarakat biasanya membuat jembatan kayu dan menyusun batu agar roda dua bisa lewat. Tapi kalau air naik, arus bisa mencapai 6–7 meter dan sangat deras,” jelas Yustandi.
Ia menyebut sekitar 50 siswa setiap hari menyeberangi sungai dengan gondola tersebut. Selain itu, 70 kepala keluarga di Dusun Makmur juga bergantung pada akses ini untuk aktivitas sehari-hari.
Yustandi berharap pemerintah segera membangun akses jembatan permanen yang lebih aman agar masyarakat tidak lagi mengandalkan gondola sederhana.
“Untuk jangka pendek, masyarakat bersama pemerintah desa berencana memasang dinamo agar gondola bisa bergerak otomatis tanpa harus ditarik manual,” tambahnya.





Komentar