Enrekang – Warga Desa Lebang, Kecamatan Cendana, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, tetap nekat menyeberangi jembatan gantung Enrekang yang sudah tua dan hampir putus. Setiap hari, warga hingga pelajar berjalan hati-hati sambil berpegangan karena jembatan kerap terayun kencang.
Jembatan sepanjang 126 meter itu kini tidak layak digunakan. Tali sling baja berkarat, besi dan kawat pengikat putus, sementara papan kayu yang menjadi lantai sudah rapuh dan berlubang. Meski demikian, warga tidak punya pilihan lain karena tidak ada jalan alternatif.
Qilal Tri Anwari (14), pelajar SMP Negeri 1 Enrekang, mengaku setiap hari melewati jembatan gantung Enrekang untuk berangkat sekolah. “Tidak takut karena sudah biasa. Tapi sering terlambat kalau antre, apalagi kalau hujan dan licin,” ujarnya.
Jembatan tersebut menghubungkan tiga desa, yaitu Lebang, Pinang, dan Malaling. Tokoh masyarakat setempat, Rusdi, mengatakan sekitar 4.000 kepala keluarga memanfaatkan jembatan itu setiap hari. Ia menambahkan, kecelakaan sering terjadi, terutama saat musim hujan.
Dibangun pada 1985, jembatan ini merupakan hasil kolaborasi antara bantuan pemerintah dan swadaya masyarakat. Pemerintah membangun tiang penyangga beton dan menyediakan tali sling, sementara warga menyumbang papan kayu. Seiring waktu, warga berulangkali memperbaiki jembatan dengan bahan seadanya.
Rusdi menegaskan bahwa masyarakat sudah sering meminta pemerintah mengganti jembatan tersebut. “Kami berharap ada respon cepat, sebelum terjadi hal yang lebih buruk,” tutupnya.





Komentar