Parepare — Perkelahian tiga remaja putri di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, yang sempat viral di media sosial, kini berakhir damai. Ketiganya, yakni HA, IA, dan AA, masing-masing berusia 15 tahun, menyelesaikan masalah secara kekeluargaan setelah menjalani pemeriksaan di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Parepare.
Kasat Reskrim Polres Parepare, AKP Muh Agus Purwanto, menjelaskan bahwa proses pemeriksaan telah selesai. Ketiga remaja tersebut memilih berdamai setelah menerima penjelasan dan pendampingan dari pihak kepolisian. “Sudah berdamai,” kata Agus, pada Senin (7/7).
Sebelumnya, anggota Polsek Kawasan Pelabuhan Nusantara (KPN) langsung menangani perkelahian yang terjadi di Lapangan Andi Makkasau, Jalan Karaeng Burane, Kelurahan Mallusetasi, Kecamatan Ujung. Insiden tersebut terjadi pada Sabtu (5/7) malam sekitar pukul 22.00 WITA, saat keramaian acara malam masih berlangsung dan menarik banyak pengunjung.
Saling Ejek Picu Perkelahian
Kapolsek KPN, Iptu Suardi, mengungkapkan bahwa perkelahian berawal dari saling ejek di antara mereka. “HA menarik tangan AA untuk menanyakan masalah sebelumnya. Namun, AA membalas dengan kata-kata kasar dan menolak berdialog. Adu mulut pun terjadi,” ujar Suardi.
Suasana memanas ketika HA, yang tersulut emosi, meninju perut AA. IA, yang berada di dekat mereka, langsung membela AA. Ketiganya pun terlibat baku hantam, saling jambak rambut, dan memukul satu sama lain. Pengunjung yang berada di lokasi menyaksikan langsung pertikaian itu. Beberapa orang merekam kejadian tersebut, lalu menyebarkannya di media sosial. Dalam waktu singkat, video itu viral dan menyedot perhatian warganet.
Petugas yang menerima laporan dari warga segera menuju lokasi dan mengamankan ketiga remaja itu. Mereka kemudian menjalani pemeriksaan di kantor polisi. Karena usia mereka masih di bawah umur, Unit PPA Polres Parepare mengambil alih penanganan kasus sesuai prosedur perlindungan anak.
Setelah proses mediasi berjalan, para remaja bersama keluarga masing-masing memilih menyudahi konflik dengan jalan damai. Langkah tersebut mencegah dampak hukum lebih lanjut dan trauma psikologis bagi ketiganya.
Kejadian ini menjadi pelajaran penting. Orang tua, guru, dan lingkungan perlu meningkatkan pengawasan terhadap pergaulan remaja. Terutama saat mereka berada di area umum dan berinteraksi dalam situasi sosial yang sensitif. Selain itu, penyuluhan tentang pengendalian emosi dan penyelesaian konflik tanpa kekerasan perlu terus dilakukan, baik di sekolah maupun dalam lingkungan rumah. <spl>





Komentar