Close sidebar
Advertisement Advertisement
Nasional Teknologi

DPR Tetap Percaya Kualitas Rafale Meski Ditembak Jatuh di Konflik India-Pakistan

Jet tempur Rafale buatan Prancis

Jakarta — Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia menyatakan keyakinannya terhadap kualitas jet tempur Rafale buatan Prancis, meskipun pesawat tersebut dilaporkan ditembak jatuh dalam konflik antara India dan Pakistan baru-baru ini.

Anggota Komisi I DPR, Dave Laksono, menegaskan bahwa insiden tersebut tidak mengurangi kepercayaan terhadap kemampuan Rafale. Menurutnya, setiap pesawat tempur memiliki kelebihan masing-masing, dan kinerjanya tidak bisa dinilai hanya dari satu pertempuran. “Karena apa? Tiap pesawat itu punya banyak kelebihan masing-masing, enggak bisa diukur dari pertempuran yang sekilas antara Pakistan dengan India,” ujar Dave Laksono.

Scopus Team Raih Juara 1 Pada National EcoFEB Competition, Mengungguli 143 Tim Dari Seluruh Indonesia

Sebelumnya, militer Pakistan mengklaim telah menembak jatuh lima jet tempur India, termasuk tiga unit Rafale, satu MiG-29, dan satu Su-30, sebagai respons atas serangan udara India di wilayah Pakistan. Insiden ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas Rafale dalam situasi tempur nyata.

Namun, pengamat militer menyarankan agar tidak terburu-buru menyimpulkan kelemahan Rafale hanya berdasarkan satu insiden. “Soal pertempuran antara India dan Pakistan, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa Rafale kurang andal. Banyak faktor yang mempengaruhi hasil pertempuran,” kata pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie.

Indonesia sendiri telah menandatangani kontrak pembelian 42 unit Rafale dari Prancis sebagai bagian dari upaya modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI. Kontrak ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kemampuan pertahanan udara nasional.

Galeri Colli Pakue Sambut FSD Drawing Day

Meskipun insiden di Asia Selatan menimbulkan kekhawatiran, DPR dan pemerintah Indonesia tetap yakin bahwa Rafale akan memberikan kontribusi signifikan terhadap kekuatan pertahanan udara Indonesia. “Kita harus melihat keseluruhan performa dan rekam jejak Rafale, bukan hanya satu insiden,” tambah Dave Laksono.

Dengan demikian, Indonesia tetap melanjutkan rencana akuisisi Rafale sebagai bagian dari upaya memperkuat pertahanan nasional di tengah dinamika geopolitik kawasan.

Jukir Liar Makassar Bantah Rusak Mobil Wisudawan UNM, PD Parkir Siapkan Mediasi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *