Makassar – Dua kota di Sulawesi Selatan, yakni Makassar dan Parepare, masuk dalam daftar kota dengan tingkat toleransi terendah di Indonesia berdasarkan hasil survei Indeks Kota Toleran (IKT) tahun 2024 yang dirilis oleh Setara Institute. Pengumuman hasil tersebut disampaikan dalam acara di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, pada Selasa, 27 Mei 2025.
Dalam laporan itu, Parepare tercatat sebagai kota dengan skor paling rendah, yakni 3,945. Sementara Makassar menyusul di posisi ke-88 dari total 94 kota yang disurvei, dengan skor 4,363. Kedua kota ini dinilai belum menunjukkan kinerja yang memadai dalam membangun iklim toleransi dan inklusi sosial di tengah masyarakatnya.
Setara Institute menegaskan bahwa rendahnya nilai indeks suatu kota tidak semata-mata disebabkan oleh banyaknya peristiwa intoleransi yang terjadi di daerah tersebut. Faktor yang lebih menentukan justru adalah absennya langkah-langkah konkret dari pemerintah kota dalam mendorong dan mengembangkan budaya toleransi. Kurangnya inovasi kebijakan, minimnya kolaborasi lintas elemen masyarakat, serta lemahnya kepemimpinan politik dan birokrasi menjadi sorotan utama dalam penilaian.
Lembaga tersebut menyatakan bahwa sejumlah kota lain justru sudah bergerak cepat dalam mengembangkan berbagai terobosan untuk memperkuat toleransi antarwarga. Kota-kota yang berhasil meraih skor tinggi dinilai aktif dalam menyusun regulasi yang mendukung keberagaman, serta menciptakan ruang aman dan inklusif bagi seluruh kelompok sosial.
Ketua Badan Pengurus Setara Institute, Ismail Hasani, mengungkapkan bahwa survei tahunan ini mulai mendapat sambutan positif dari para kepala daerah. Menurutnya, indeks ini tidak hanya menjadi tolok ukur, tetapi juga alat untuk mendorong pemimpin daerah agar terus berbenah dan memperbaiki situasi di wilayah masing-masing. Ia menyebut ada banyak kepala daerah yang tidak menyerah dan terus menunjukkan upaya untuk meningkatkan toleransi, meskipun kondisi awal kota mereka belum ideal.
Indeks Kota Toleran disusun berdasarkan empat variabel utama, yakni regulasi pemerintah kota, tindakan nyata pemerintah yang mendukung toleransi, pernyataan publik terhadap isu keberagaman, serta dinamika sosial masyarakat dalam merespons perbedaan. Dengan metodologi yang komprehensif, laporan ini diharapkan menjadi rujukan penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat sipil dalam membangun kota yang lebih inklusif.
Setara Institute juga merilis daftar kota-kota dengan tingkat toleransi tertinggi di tahun yang sama. Salatiga kembali menempati posisi pertama dengan skor 6,544, diikuti oleh Singkawang, Semarang, dan Magelang. Kota-kota ini dianggap berhasil menunjukkan sinergi antara kebijakan pemerintah, partisipasi masyarakat, dan kepemimpinan yang berpihak pada keragaman.
Rilis tahunan Indeks Kota Toleran ini menjadi pengingat penting bahwa pembangunan kota tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dan pemimpinnya dalam merawat harmoni sosial. Bagi Makassar dan Parepare, hasil ini bisa menjadi titik balik untuk menata ulang pendekatan mereka dalam merawat kebinekaan dan memperkuat solidaritas di tengah perbedaan. <spl>





Komentar