Close sidebar
Advertisement Advertisement
Daerah Peristiwa Sulsel

Fakta Baru Pembunuhan Feni Ere, Lompat Tanpa Pijakan dan Bercak Darah Jadi Tanda Tanya

Foto lokasi Pembunuhan Feni Ere di Palopo

Palopo — Rekonstruksi kasus pembunuhan tragis terhadap Feni Ere (28) yang digelar di Kecamatan Mungkajang, Kota Palopo, menyisakan sejumlah tanda tanya besar. Kuasa hukum keluarga korban, Abner Buntang, menyoroti dua kejanggalan utama yang belum terjawab selama proses rekonstruksi yang memperagakan total 115 adegan.

Salah satu hal yang dipertanyakan Abner adalah adegan lompat pelaku dari ujung kamar mandi ke dalam rumah, yang dianggap sulit dilakukan dalam kondisi fisik pelaku saat itu. Terlebih, pelaku diketahui dalam keadaan setengah mabuk ketika melakukan aksi tersebut.

FT UNM Perluas Sinergi Industri Melalui Campus Hiring FGDP

” Cara lompat pelaku dari kamar mandi itu tidak masuk akal. Tanpa pijakan, dan dalam kondisi mabuk, rasanya berat untuk bisa melompat ke atas. Ini menjadi catatan penting kami,” ujar Abner, Senin (2/6) sore.

Tak hanya itu, Abner juga mengungkap adanya bercak darah pada celana short korban yang tergantung di lokasi kejadian, namun hal tersebut tidak mendapatkan penjelasan memadai selama rekontruksi.

“Ketika ditanyakan soal bercak darah itu, pelaku hanya menjawab tidak tahu. Ini membuat proses rekonstruksi terasa belum tuntas,” tambah Abner.

PLT Rektor UNM Tekankan Prestasi Berkelanjutan

Meski begitu, pihak keluarga tetap akan menghormati proses hukum yang berjalan dan akan terus mengawal hingga kasus ini disidangkan di pengadilan.

“Kami masih akan menunggu proses berikutnya di Kejaksaan dan pengadilan. Beberapa poin memang belum terjawab dalam rekonstruksi,” tegas Abner.

Polisi: Adegan Diperagakan Sesuai Pengakuan Pelaku

Ramah Tamah FT UNM, Dekan Tekankan Pengembangan Diri

Kasat Reskrim Polres Palopo, Iptu Sahrir, menanggapi sorotan tersebut dengan menyatakan bahwa semua adegan yang diperagakan berasal dari pengakuan tersangka sendiri, Ahmad Yani alias Amma (35).

“Kami tidak mengarang atau memaksa. Semua yang diperagakan itu sesuai dengan keterangan pelaku,” jelas Sahrir.

Soal bercak darah, ia menjelaskan bahwa pelaku tak pernah menyebutkannya selama pemeriksaan penyidikan. Oleh karena itu, unsur tersebut tidak masuk dalam rangkaian rekonstruksi.

Duka Keluarga Masih Mendalam

Seperti diketahui, jasad Feni Ere ditemukan pada Februari 2025 dalam kondisi mengenaskan — tinggal kerangka — di kawasan wisata air terjun Batu Dewa, Kelurahan Battang Barat, Kota Palopo. Sebelumnya, ia sempat dilaporkan hilang sejak tahun lalu.

Dalam proses rekonstruksi yang berlangsung di rumah korban, suasana duka sangat terasa. Keluarga korban tak kuasa menahan tangis saat tersangka memperagakan adegan pembunuhan, termasuk momen tragis ketika korban dibenturkan ke lantai pada adegan ke-50. <spl>

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *