Israel — 20 Mei 2025, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tengah menghadapi tekanan internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tiga sekutu utama Israel di Eropa—Jerman, Prancis, dan Inggris—menyatakan penolakan tegas terhadap operasi militer Israel di Gaza dan menyerukan gencatan senjata segera.
Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock, menyuarakan keprihatinannya terhadap situasi kemanusiaan yang memburuk di Rafah, Gaza selatan.
“Gaza berada di ambang kehancuran. Di Rafah, 1,3 juta orang terjepit dalam area kecil dalam kondisi yang paling mengerikan,”
— Annalena Baerbock, Menlu Jerman
Ia memperingatkan bahwa operasi militer Israel berpotensi memicu kehancuran total.
“Serangan Israel di Rafah akan membuat situasi kemanusiaan sepenuhnya di luar kendali,”
— Annalena Baerbock
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, juga mendesak dihentikannya serangan dan menyoroti bahaya pelanggaran hukum internasional.
“Serangan Israel hanya akan menyebabkan bencana kemanusiaan baru. Tindakan ini melanggar hukum humaniter internasional dan berisiko memicu eskalasi regional yang lebih luas,”
— Emmanuel Macron, Presiden Prancis
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, bergabung dengan Macron dan Kanselir Jerman Olaf Scholz dalam pernyataan bersama yang menyerukan deeskalasi dan dukungan terhadap mediasi damai.
“Kami menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri dan mencegah eskalasi lebih lanjut. Upaya Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat dalam mendorong gencatan senjata dan pembebasan sandera patut diapresiasi,”
— Pernyataan Bersama Inggris, Prancis, dan Jerman
Di tengah tekanan yang semakin besar, Benjamin Netanyahu tetap bersikukuh mempertahankan operasi militer Israel. Ia menyatakan bahwa Israel akan menentukan sikapnya sendiri terhadap ancaman regional, termasuk dari Iran.
“Israel akan membuat keputusannya sendiri dalam menanggapi Iran, tanpa tunduk pada tekanan dari luar,”
— Benjamin Netanyahu, PM Israel
Sikap keras Netanyahu memperburuk posisi diplomatiknya secara global, dengan dukungan dari sekutu-sekutu tradisionalnya yang mulai memudar. Dunia kini menanti apakah Israel akan memilih jalur kompromi atau terus berada dalam jalur konfrontatif di tengah badai tekanan internasional yang semakin menguat. <spl>





Komentar