Barru — Kepulangan para jemaah haji dari Tanah Suci selalu membawa kisah penuh makna dan emosi. Salah satunya datang dari Hj. Rahmayanti, jemaah haji asal Kecamatan Tanete Rilau, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, yang tergabung dalam Kloter 4 Embarkasi Makassar.
Rahmayanti, yang ditemui di Aula Arafah Asrama Haji Sudiang Makassar pada Sabtu dini hari, (14/6). Mengungkapkan perasaannya usai menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji. “Masyaallah, perasaan saat ini campur aduk, ada bahagia dan ada sedih. Sedihnya karena harus tinggalkan Kota Mekkah, senangnya karena bisa pulang dan bertemu keluarga,” ucapnya
Ia merasa bersyukur telah diberi kesempatan berhaji tahun ini bersama kakaknya, Wahyuni. Namun di balik kebahagiaan itu, ada kisah perjuangan berat yang ia alami, terutama saat menjalani puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau yang dikenal dengan istilah Armuzna.
“Iya, capek, karena kami jalan kaki, jadi tenaga terkuras. Selain itu, makanannya juga makanan siap saji,” katanya sembari tersenyum lelah. Meskipun demikian, ia tetap memuji kinerja Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi yang menurutnya telah memberikan pelayanan yang maksimal di tengah jutaan jemaah yang harus ditangani.
Rahmayanti pun tampil memikat dengan busana hitam berkilau dan penutup kepala khas Bugis, mispah, yang telah ia siapkan sejak sebelum keberangkatan. Baginya, pakaian tersebut bukan sekadar simbol, melainkan identitas dan kebanggaan. “Harus memang dipakai, ini tanda pulang haji. Dan begini memang busana haji khas Bugis,” jelasnya.
Lebih dari sekadar perjalanan spiritual, haji bagi Rahmayanti adalah proses panjang yang penuh ujian fisik, emosi, dan mental. Namun di balik semua itu, ada tekad kuat dalam dirinya untuk bisa kembali ke Tanah Suci bersama orang-orang tercintanya. “Semoga suami, keluarga semuanya juga dapat nyusul berangkat haji,” harapnya.
Dengan mata yang berbinar dan senyum yang tulus, Rahmayanti menutup kisahnya sebagai jemaah haji yang tidak hanya membawa oleh-oleh dan cerita, tetapi juga segudang pelajaran dan kerinduan akan Baitullah. <spl>





Komentar