Close sidebar
Advertisement Advertisement
Nasional Politik

Di Balik Kunjungan Macron ke Borobudur, Tersimpan Kisah Lama yang Terlupakan

Foto Candi Borobudur

Jakarta – Presiden Prancis Emmanuel Macron dijadwalkan mengunjungi Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, bersama Presiden Prabowo Subianto pada Rabu, 28 Mei 2025. Kunjungan ini merupakan bagian dari lawatan singkat Macron selama dua hari di Indonesia, yang sekaligus menjadi momen bersejarah mengingat Borobudur adalah salah satu keajaiban dunia.

Pemerintah Indonesia pun telah melakukan berbagai pembenahan sarana dan prasarana untuk menyambut tamu negara tersebut. Namun, di balik kemegahan Candi Borobudur yang akan disaksikan Macron, tersimpan kisah panjang tentang bagaimana monumen ini kembali ditemukan dan menariknya, bukan oleh warga Indonesia.

Scopus Team Raih Juara 1 Pada National EcoFEB Competition, Mengungguli 143 Tim Dari Seluruh Indonesia

Candi Borobudur dibangun pada abad ke-8 hingga 9 oleh Dinasti Syailendra dari Kerajaan Mataram Kuno. Seiring waktu dan bencana alam, candi ini terlupakan dan tertimbun tanah serta rerumputan. Warga sekitar kala itu bahkan tak menganggapnya sebagai sesuatu yang istimewa.

Hingga pada tahun 1813, seorang keturunan Tionghoa yang kala itu menjabat sebagai Bupati Yogyakarta, Tan Jin Sing, menyampaikan informasi penting kepada Letnan Gubernur Inggris di Jawa, Thomas Stamford Raffles. Tan mengatakan bahwa mandor di Desa Bumisegoro melihat struktur bangunan besar yang mencurigakan.

Raffles, yang memang dikenal sebagai pencinta sejarah dan arsitektur kuno, segera menindaklanjuti informasi tersebut dan mengutus Tan Jin Sing ke lokasi.

Galeri Colli Pakue Sambut FSD Drawing Day

“Ditaksir usianya lebih dari 100 tahun,” kata Tan, sebagaimana dikutip dari penuturan keturunannya, T.S Werdoyo, dalam buku Tan Jin Sing: Dari Kapiten Cina sampai Bupati Yogyakarta (1990).

Tan Jin Sing kemudian datang bersama warga lokal ke lokasi dan menemukan bangunan besar yang tertutup tanah dan semak belukar. Mereka menyebut bangunan tersebut dengan nama “Borobudur”.

Setelah mendapatkan laporan tersebut, Raffles memerintahkan pemugaran besar-besaran. Ia melibatkan arkeolog Belanda Christian Cornelius, yang berpengalaman dalam restorasi candi-candi kuno di Jawa.

Jukir Liar Makassar Bantah Rusak Mobil Wisudawan UNM, PD Parkir Siapkan Mediasi

Seperti yang dicatat oleh Tim Hannigan dalam Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa (2015), proyek pemugaran dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari Tan Jin Sing, Cornelius, dan sekitar 200 warga lokal. Mereka membersihkan semak-semak dan menggali timbunan tanah yang menutupi candi selama berabad-abad.

Setelah dua minggu kerja keras, struktur megah Borobudur pun mulai tampak. Cornelius menyusun deskripsi rinci candi dan mengirimkannya kepada Raffles di Batavia.

Walau bukan “penemu” pertama secara harfiah, Raffles, Tan Jin Sing, dan Cornelius memainkan peran penting dalam “penemuan kembali” Borobudur — menjadikannya pusat perhatian para peneliti dan ahli sejarah dari Eropa.

Setelah Inggris meninggalkan Jawa pada 1816, pemerintah kolonial Belanda meneruskan proses pemugaran. Hasil kerja bertahun-tahun itu kini bisa dinikmati dunia, termasuk oleh Presiden Macron. <spl>

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *