Close sidebar
Advertisement Advertisement
Daerah Peristiwa

Aliran Sesat di Maros Ajarkan Haji ke Gunung Bawakaraeng, Polisi Selidiki

Wajah Petta Bau, pemimpin aliran menyimpang Pangissengana Tarekat Ana’ Loloa

Maros – Aliran sesat di Maros kembali membuat warga resah. Petta Bau, pemimpin aliran menyimpang Pangissengana Tarekat Ana’ Loloa, masih bebas berkeliaran di Desa Bonto Somba, Kecamatan Tompobulu,Kabupaten Maros. Aparat Polres Maros sebelumnya sempat mengamankannya, namun belum menahan karena penyelidikan masih berjalan.

Pada (30/3/2025), polisi membawa Petta Bau setelah muncul laporan dari masyarakat. Mereka menyoroti aktivitas aliran sesat di Maros yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. Dalam ajarannya, pemimpin aliran menyimpang ini mengajarkan 11 rukun Islam. Ia juga menyuruh pengikutnya berhaji ke Gunung Bawakaraeng, bukan ke Mekkah.

Tim Pengabdi UNM Perkuat Budidaya Ikan Pujananting

Kasubsi Penmas Polres Maros, Ipda Marwan Afriady, mengatakan penyidik masih memproses kasus ini. “Saat ini kasusnya masih dalam tahap penyelidikan,” ujarnya, Kamis (12/7/2025).

Marwan meluruskan bahwa aparat tidak menangkap, tetapi mengamankan Petta Bau. Langkah itu mereka ambil untuk mencegah potensi konflik warga. “Kami hanya mengamankan untuk menghindari aksi warga karena viralnya dugaan ajaran menyimpang,” jelasnya.

Polres Maros berencana menggelar perkara dalam waktu dekat. Meskipun Petta Bau mengklaim masih meyakini lima rukun Islam dan berhaji ke Mekkah, aparat tetap melanjutkan penyelidikan. Aktivitas kelompok ini sudah memicu keresahan.

IKA Sosiologi FISIP Unhas Resmi Dilantik, Dr. Busman Pimpin Periode 2026-2030

Kepala Kemenag Maros, Muhammad, menyebut kelompok ini masih aktif merekrut. Jumlah pengikut aliran sesat di Maros bertambah dari 27 menjadi 30 orang. Kelompok ini menjanjikan surga kepada pengikut yang membeli pusaka dengan harga Rp300 ribu hingga Rp10 juta.

“Kalau beli pusaknya akan mendapat surga,” ujarnya.

Muhammad menilai praktik ibadah kelompok ini menyimpang. Mereka melakukan shalat dengan sangat cepat dan tanpa ilmu. Mereka juga tidak melaksanakan puasa penuh selama 30 hari. “Shalatnya sangat singkat, tidak sesuai tuntunan. Puasanya pun tidak penuh,” tambahnya.

FT UNM Wujudkan Gerakan Mappaccing UNM

Pihak Polres Maros dan Kemenag terus memantau penyebaran ajaran menyimpang ini. Masyarakat diminta tetap waspada terhadap pemimpin aliran menyimpang yang menyalahgunakan nama agama.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *