Internasional – Amerika Serikat meluncurkan serangan udara ke tiga fasilitas nuklir utama milik Iran pada Minggu dini hari (22/6), menandai eskalasi serius dalam konflik kawasan. Presiden AS Donald Trump menyebut operasi itu sukses besar, dengan sasaran utama fasilitas Fordow, Natanz, dan Isfahan yang dikenal sebagai pusat pengayaan uranium Iran.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa seluruh pesawat pengebom telah meninggalkan wilayah udara Iran dan menyebut serangan sebagai langkah menuju perdamaian. Namun, dampak dari serangan itu justru memicu gejolak global.
Iran bereaksi keras. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa perang telah dimulai dan menetapkan seluruh warga serta militer Amerika di Timur Tengah sebagai target sah. Menteri Pertahanan Iran, Jenderal Aziz Nasirzadeh, memperingatkan bahwa seluruh pangkalan AS di kawasan kini berada dalam jangkauan rudal Iran.
Serangan itu dilakukan dengan pesawat pengebom siluman B-2 yang membawa bom bunker buster seberat 13,5 ton. Bom ini diyakini mampu menghancurkan fasilitas bawah tanah seperti Fordow, yang terletak di pegunungan dekat Qom dan dianggap mustahil ditembus sebelumnya.
Israel, meski tidak terlibat langsung dalam serangan, langsung meningkatkan status keamanan nasional ke tingkat tertinggi. Aktivitas publik dihentikan dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut Iran sebagai ancaman nyata, sekaligus memperingatkan adanya babak lanjutan dalam konflik ini.
Kecaman terhadap serangan AS datang dari Rusia dan China. Wakil Menlu Rusia, Sergei Ryabkov, menilai tindakan Washington membahayakan stabilitas global dan dapat memicu bencana nuklir.
Dengan kondisi diplomasi yang semakin buntu, dunia kini menghadapi risiko konflik terbuka yang melibatkan lebih banyak negara. Krisis internasional yang dipicu oleh serangan ini menempatkan kawasan dan dunia pada titik yang sangat genting. <spl>





Komentar