Jakarta – Greenpeace Indonesia menggelar aksi damai di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta, Rabu (19/6). Aksi ini sebagai bentuk protes terhadap dukungan AS terhadap Israel dalam konflik di Gaza. Mereka menuding dukungan tersebut memperpanjang kekerasan dan penderitaan warga sipil Palestina. Dalam orasinya, massa menyebut tindakan Israel sebagai bentuk genosida. Aksi ini berlangsung tertib dengan pengawalan dari aparat keamanan.
Massa aksi membawa spanduk besar bertuliskan “Stop Supporting Genocide” dan melakukan teatrikal simbolis. Mereka juga membagikan selebaran berisi seruan kemanusiaan dan data dampak konflik di Gaza. Beberapa peserta mengenakan pakaian serba hitam sebagai lambang duka atas korban sipil. Aktivis menyampaikan tuntutan kepada AS untuk menghentikan bantuan militer ke Israel. Aksi ini menarik perhatian masyarakat yang melintas di sekitar Kedubes.
Juru kampanye Greenpeace, Asep Komarudin, menyatakan bahwa lebih dari 55.000 orang tewas di Gaza sejak konflik kembali memanas. Ia juga menyebut hampir 130.000 lainnya luka-luka, dengan 90 persen warga terpaksa mengungsi. “Lebih dari setengah juta orang kini menghadapi kelaparan akut,” ujarnya. Greenpeace menilai hal ini merupakan bencana kemanusiaan yang tak bisa dibiarkan. Mereka menuntut adanya tekanan internasional terhadap Israel.
Greenpeace juga mendesak pemerintah Indonesia agar bersikap lebih tegas secara diplomatik. Mereka meminta Indonesia mengambil peran aktif dalam mendesak penghentian kekerasan terhadap rakyat Palestina. “Kita tak bisa hanya diam saat kejahatan kemanusiaan terjadi secara terang-terangan,” tambah Asep. Menurutnya, Indonesia punya tanggung jawab moral dan posisi politik yang strategis. Aksi ini menjadi seruan kepada negara-negara untuk tidak lagi mendukung agresi bersenjata.
Aksi protes terhadap dukungan AS terhadap Israel bukan kali pertama digelar di Jakarta. Sebelumnya, mahasiswa dan organisasi sipil juga melakukan aksi serupa sejak awal 2024. Amnesty International dan Human Rights Watch turut mengkritik pelanggaran HAM di Gaza. Kedua lembaga itu menyoroti banyaknya korban sipil dan blokade terhadap bantuan kemanusiaan. Mereka menyerukan penghentian serangan dan pembukaan akses bantuan untuk Gaza. <spl>





Komentar