Close sidebar
Advertisement Advertisement
Kesehatan

Perubahan Otak pada Skizofrenia: Dari Halusinasi hingga Penyusutan Jaringan

Ilustrasi perubahan otak skizofrenia, seseorang menutup wajah dikelilingi bayangan gelap yang melambangkan beban emosional
Gambar ilustrasi perubahan otak skizofrenia yang menggambarkan manipulasi emosional serta dampak gangguan mental pada pikiran dan perasaan

Kesehatan – Skizofrenia adalah penyakit mental serius yang sering terabaikan, padahal gangguan ini berdampak besar terhadap otak. Perubahan otak skizofrenia tidak hanya mengalami halusinasi dan delusi, tetapi juga menghadapi perubahan mendalam pada struktur serta fungsi otak.

Halusinasi, penyusutan dan Faktor Risiko

Penderita skizofrenia sering mendengar suara yang tidak nyata. Otak gagal membedakan suara pikiran sendiri dengan suara dari luar karena sinyal prediksi bicara tidak bekerja optimal. Kondisi tersebut membuat korteks pendengaran bekerja berlebihan dan memicu halusinasi.

35 Siswa di Maros Diduga Keracunan Usai Bukber di SMPN 3 Camba, Puluhan Dirawat

Studi pencitraan otak menemukan penyusutan volume materi abu-abu, terutama di lobus frontal dan temporal. White matter yang menghubungkan antarbagian otak juga mengalami gangguan. Akibatnya, komunikasi antararea otak melemah dan fungsi kognitif serta emosi ikut menurun.

Penelitian terbaru memetakan pola kerusakan otak yang semakin luas seiring lamanya penyakit. Pada lima tahun pertama, perubahan masih terbatas. Namun setelah 15 hingga 25 tahun, penyusutan materi abu-abu dan gangguan konektivitas otak menyebar lebih luas.

Hippocampus bagian otak yang mengatur memori dan emosi mengecil sejak tahap awal skizofrenia. Perubahan tersebut memicu gangguan memori serta kesulitan dalam mengendalikan emosi. Selain itu, ketidakseimbangan dopamin berperan besar. Kelebihan dopamin di jalur mesolimbik menimbulkan halusinasi dan delusi, sedangkan kekurangannya di area prefrontal memicu gejala negatif seperti sulit berpikir jernih dan menarik diri dari lingkungan sosial.

Kisah Cipa, Usia 29 Tahun Terkena Diabetes Akibat FOMO Makanan Manis Viral

Faktor genetik dan epigenetik juga meningkatkan risiko penyakit ini. Proses pruning sinaptik yang terlalu agresif pada masa remaja justru mengurangi koneksi saraf. Perubahan epigenetik seperti hipermetilasi gen tertentu menghambat produksi protein penting untuk stabilitas sinaps, sehingga risiko perubahan otak skizofrenia semakin tinggi sejak usia muda.

WHO dan NIMH menggolongkan skizofrenia sebagai gangguan psikotik yang membutuhkan perawatan jangka panjang. Terapi obat, konseling psikologis, dan dukungan keluarga membantu penderita mengendalikan gejala, meski penyakit ini belum bisa disembuhkan sepenuhnya.

Skizofrenia bukan sekadar gangguan mental dengan halusinasi atau delusi. Penyakit ini juga melibatkan perubahan nyata pada otak, mulai dari penyusutan jaringan hingga ketidakseimbangan dopamin. Pemahaman lebih baik diharapkan mampu membuka jalan bagi pengembangan terapi yang efektif.

DEMA FKIK FKIK UIN Alauddin, Layanan Kesehatan Gratis dan Peduli Lingkungan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *