Close sidebar
Advertisement Advertisement
Peristiwa Politik

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Marah Saat Pendukung Persikas Bentangkan Spanduk di Acara Resmi

Deddi Mulyadi

Subang — Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menunjukkan kemarahannya saat acara “Nganjang ka Warga” di Pamanukan, Subang, ketika sekelompok pendukung Persikas (Persatuan Sepak Bola Subang) membentangkan spanduk bertuliskan “Selamatkan Persikas”. Acara tersebut juga dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati Subang serta ribuan masyarakat setempat pada Rabu Malam, (28/05/2025).

Insiden terjadi ketika KDM sedang menampilkan seorang ibu dengan penampilan sederhana yang memiliki anak dengan keterbatasan fisik namun berhasil mendidik anak-anaknya tumbuh sehat. Tiba-tiba, beberapa pendukung Persikas membentangkan spanduk panjang sambil menyanyikan yel-yel dukungan. KDM pun berdiri dari duduknya dengan ekspresi marah dan menunjuk-nunjuk ke arah mereka.

Scopus Team Raih Juara 1 Pada National EcoFEB Competition, Mengungguli 143 Tim Dari Seluruh Indonesia

“Hei, ini forum saya, bukan forum Persikas. Ini forum saya dengan rakyat bukan dengan Persikas. Anak muda ga punya otak kamu,” ujar KDM dengan nada geram.

“Saya tidak terima anda, saya cari kamu,” tambahnya.

KDM menekankan bahwa forum tersebut bukan tempat untuk menyuarakan aspirasi klub sepak bola, terutama ketika fokus acara adalah pada kisah inspiratif seorang ibu yang berjuang demi anak-anaknya. Ia juga menyoroti bahwa kebutuhan masyarakat Subang saat ini lebih mendesak, seperti infrastruktur dan pendidikan, dibandingkan dengan dukungan terhadap klub sepak bola.

Galeri Colli Pakue Sambut FSD Drawing Day

“Hei kamu, Persikas pindah kemanapun, tidak akan mempengaruhi orang miskin untuk bisa makan. Orang Subang bukan butuh Persikas hari ini. Orang Subang butuh jalan yang baik, butuh sekolah yang baik. Itu urusan kamu (Persikas) hobi dan kesenangan tapi tidak boleh mengabaikan apa yang menjadi kebutuhan dasar bagi kepentingan masyarakat Subang,” tegas KDM.

Ia juga menjelaskan bahwa mengelola klub sepak bola profesional memerlukan anggaran besar yang tidak bisa sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah daerah.

“Mengelola sepak bola untuk menjadi (main) liga 1, liga 2 butuh biaya besar, tidak akan bisa Pemda Subang pakai duit Pemda untuk ngurus main bola, duitnya ga cukup,” terang KDM.

Jukir Liar Makassar Bantah Rusak Mobil Wisudawan UNM, PD Parkir Siapkan Mediasi

KDM menutup pernyataannya dengan menekankan pentingnya menghargai perjuangan individu seperti ibu yang menjadi sorotan dalam acara tersebut, yang meskipun menghadapi kesulitan, tetap berjuang demi anak-anaknya.

“Ibu ini kelihatan seperti orang bodoh dari sisi pribadi oleh suami sedang disakiti. Tetapi karena jiwanya luas keinginannya tinggi, dia mampu membiayai mendidik anak-anaknya dalam keadaan sehat meskipun ada yang tidak sempurnaan. Tapi Allah memberikan jalan bagi hidupnya,” tuturnya.

Insiden ini menyoroti ketegangan antara aspirasi pendukung olahraga lokal dan prioritas pembangunan daerah yang lebih luas. <spl>

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *