Makassar – Bahaya laten narkoba kembali menjadi sorotan serius dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Polri untuk Masyarakat : Pemudan bersih dari narkoba” yang digelar oleh KNPI Kota Makassar, di Red Corner Cafe & Resto, pada Rabu sore (2/7). Kegiatan ini menghadirkan para pemangku kepentingan dari unsur legislatif, kepolisian, BNN, bea cukai, dan pemuda.
Dalam forum yang berlangsung hangat ini, Ketua DPRD Kota Makassar Supratman menyampaikan testimoni menggugah terkait pengalaman pribadi dan pengamatannya terhadap maraknya penyalahgunaan narkoba di kalangan pemuda. Ia mengisahkan secara emosional bagaimana seseorang yang awalnya “cuma coba-coba” narkoba, akhirnya harus kehilangan segalanya: keluarga, harta, dan masa depan. “Awalnya hanya ketawa-ketawa, main-main… sampai akhirnya jual mobil bapaknya, bohong bilang dicuri, lalu habiskan uang hasil jual tanah. Baru setelah hancur total, muncul penyesalan,” ungkap Supratman.
Ia menekankan bahwa fenomena ini bukan lagi kasus sporadis, tapi telah menjadi masalah sistemik yang menyasar mereka yang putus sekolah, tidak memiliki pekerjaan, dan tidak punya arah masa depan. Salah satu titik rawan yang disebut adalah kawasan Sampirian, yang menurutnya menjadi tempat distribusi narkoba dengan modus operandi yang licik dan terselubung. “Bayangkan, rumahnya hanya berdinding tripleks dan tanah, tapi di dalamnya bisa disita uang tunai ratusan juta. Bahkan ada CCTV terpasang di area pemakaman hanya untuk memantau arus keluar-masuk barang,” bebernya.
Di hadapan peserta FGD, Supratman juga mengkritisi pola sosialisasi pemerintah yang selama ini hanya menyasar kalangan pelajar dan organisasi formal. Menurutnya, sosialisasi harus menyentuh akar, yakni para pemuda pinggiran yang tidak lagi memiliki akses terhadap pendidikan atau pekerjaan layak.
Dari sisi anggaran, ia mengakui bahwa belum ada alokasi signifikan dari DPRD yang secara langsung menyasar penanganan narkoba. Namun, program-program pencegahan melalui pengembangan pemuda, seperti pelatihan kerja dan wirausaha, telah mulai digalakkan. Salah satunya melalui dukungan terhadap Disnaker dan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora). “Banyak anak muda kita sudah diberangkatkan ke Jepang lewat pelatihan BLK. Kita juga dorong pelatihan barista, bengkel, dan lainnya agar ada kegiatan positif yang menyita waktu dan energi mereka,” ujar Supratman.
FGD ini menjadi momen refleksi sekaligus pemantik semangat kolaboratif lintas sektor. Dalam penutupnya, Supratman berharap agar pergeseran anggaran di perubahan tahun ini bisa lebih berpihak pada program-program pencegahan narkoba yang menyentuh langsung kehidupan generasi muda. “Kalau dulu anggaran Dispora bisa 100 miliar, sekarang tinggal 60 miliar. Kita akan review ulang dan pastikan program kepemudaan yang menyentuh akar akan kita dorong bersama pemerintah kota,” pungkasnya.





Komentar