Close sidebar
Advertisement Advertisement
Daerah Peristiwa Sulsel

Kapal Pengangkut Kerbau Tenggelam di Jeneponto, 3 ABK Asal Bone Masih Hilang

Potret tim SAR saat mencari korban

Jeneponto – Tragedi tenggelamnya kapal pengangkut hewan, KM Asia Mulia GT 41, di perairan antara Kabupaten Bantaeng dan Jeneponto, Sulawesi Selatan, pada Kamis (19/6) dini hari, menyita perhatian publik. Kapal yang mengangkut 57 ekor kerbau itu tenggelam usai bertabrakan dengan kapal kargo berbahan besi sekitar pukul 04.00 WITA.

Benturan keras menyebabkan badan kapal terbelah dan seluruh muatan hewan ikut tenggelam. Saat kejadian, delapan orang awak kapal (ABK) berada di atas kapal. Lima orang berhasil ditemukan dalam kondisi selamat, sementara tiga lainnya masih dalam pencarian oleh tim SAR gabungan.

Tim Pengabdi UNM Perkuat Budidaya Ikan Pujananting

Kepala BPBD Jeneponto, Andi Patappoy, mengungkapkan bahwa kelima korban selamat ditemukan oleh nelayan sekitar pukul 09.00 WITA. Korban selamat berasal dari dua wilayah berbeda, yakni Bone dan Alor.

Data korban selamat:

  • Ebit (Kajuara, Bone)
  • Asrul (Kajuara, Bone)
  • Pance (Alor, NTT)
  • Supri (Alor, NTT)
  • Harun (Alor, NTT)

Tiga korban yang masih dalam pencarian:

IKA Sosiologi FISIP Unhas Resmi Dilantik, Dr. Busman Pimpin Periode 2026-2030

  • Supriadi (Kapten kapal, Kajuara, Bone)
  • Asdar (Kajuara, Bone)
  • Aldi (Kajuara, Bone)

“Korban selamat ada lima orang. Tiga orang lagi masih dalam pencarian,” ujar Andi Patappoy saat dihubungi. Ia menambahkan bahwa operasi pencarian melibatkan BPBD Jeneponto dan Bantaeng, Basarnas, serta Syahbandar.

KM Asia Mulia diketahui bertolak dari Pelabuhan Rote, Kupang, NTT, menuju Kabupaten Jeneponto. Investigasi tengah dilakukan pihak berwenang untuk mengungkap penyebab kecelakaan laut ini, termasuk kemungkinan pelanggaran keselamatan pelayaran.

Hingga kini, tim SAR gabungan terus menyisir lokasi kejadian guna menemukan tiga ABK yang belum ditemukan. Sementara itu, seluruh hewan ternak yang diangkut dinyatakan tenggelam dan tidak dapat diselamatkan.

FT UNM Wujudkan Gerakan Mappaccing UNM

Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya penerapan standar keselamatan laut, khususnya dalam pengangkutan barang dan hewan antarpulau yang melintasi jalur padat dan rawan insiden. <spl>

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *