Close sidebar
Advertisement Advertisement
Nasional Pendidikan Sulsel Teknologi

Inovasi Mahasiswa UNIRA Curi Perhatian di KKN Nasional

Foto Ferdi Prayoga Apriyudi dan Misbahul Arifin, delegasi Universitas Madura (UNIRA), berfoto bersama dosen pendamping usai mengikuti kegiatan penutupan KKN

Maros — Delegasi mahasiswa Universitas Madura (UNIRA) sukses menyelesaikan pengabdian dalam program KKN Kebangsaan 2025 yang berlangsung di dua kabupaten Sulawesi Selatan, Maros dan Pangkep. Kegiatan ini dipusatkan di Universitas Hasanuddin dan melibatkan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Dua nama dari UNIRA mencuri perhatian selama pelaksanaan KKN. Mereka adalah Ferdi Prayoga Apriyudi dan Misbahul Arifin, mahasiswa yang menonjol berkat program-program inspiratif yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Sepeda Listrik FT UNM Raih Apresiasi Rektor

Ferdi Perkuat Desa Lewat Teknologi dan Semangat Kebangsaan

Di Kelurahan Biraeng, Kabupaten Pangkep, Ferdi mengembangkan website desa inovatif yang menyatukan informasi publik dan promosi potensi lokal. Website tersebut memperkuat komunikasi antarwarga dan membuka peluang digitalisasi ekonomi desa.

Ferdi juga menginisiasi dan menyelenggarakan Seminar Kebangsaan di Desa Belae dan Kelurahan Biraeng. Lebih dari 250 pemuda hadir untuk mengikuti sesi inspiratif yang mengangkat isu nasionalisme dan semangat gotong royong. Kolaborasi yang Ferdi bangun dengan tokoh masyarakat dan pemuda lokal membuat seminar ini meninggalkan kesan mendalam.

“Kegiatan ini bukan hanya tentang hadir di desa, tapi tentang menghadirkan perubahan yang nyata,” ujar Ferdi pada Rabu (6/8).

FT UNM Pamerkan Karya Inovatif Berdampak

Misbahul Ubah Limbah Jadi Berkah dan Tanamkan Kesadaran Hukum

Sementara itu, Misbahul Arifin menggerakkan masyarakat Dusun Katoang, Desa Bontomatinggi, lewat program hilirisasi pertanian. Ia mengolah limbah bonggol jagung menjadi arang briket, produk alternatif yang bernilai ekonomis dan ramah lingkungan. Melalui sosialisasi langsung, Misbahul mengajarkan proses produksi mulai dari pengeringan, pembakaran, hingga pencetakan briket. “Selama ini limbah jagung cuma jadi sampah. Sekarang kami tahu, ternyata bisa jadi sumber penghasilan,” ujar salah satu warga.

Selain isu lingkungan, Misbahul juga turun ke sekolah. Ia menyampaikan penyuluhan hukum dasar di SMP PGRI 7 Maros, membahas kenakalan remaja, perlindungan anak, dan pentingnya kesadaran hukum sejak usia muda.

Di bidang keagamaan, Misbahul mendapat kepercayaan sebagai khatib Salat Jumat di Masjid Dusun Katoang. Kepala dusun setempat langsung meminta dirinya mengisi khutbah karena sikapnya yang santun, komunikatif, dan mengayomi. “Prinsip saya sederhana: hadir dan bermanfaat, sekecil apa pun bentuknya,” tutur Misbahul.

FT UNM Perluas Sinergi Industri Melalui Campus Hiring FGDP

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *