Close sidebar
Advertisement Advertisement
Nasional

Sejarah Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober dan Kontroversinya

Monumen Pancasila Sakti sebagai simbol Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober
Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Jakarta Timur, menjadi simbol peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober.

Nasional – Setiap 1 Oktober, Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan ini lahir dari peristiwa G30S/PKI yang menewaskan tujuh perwira TNI AD. Pemerintah menetapkan hari tersebut untuk menegaskan bahwa Pancasila tetap kokoh sebagai dasar negara meski banyak pihak berusaha merongrongnya dengan ideologi lain.

Presiden Soeharto menetapkan ini melalui Keppres No. 153 Tahun 1967. Pertimbangannya menegaskan bahwa banyak ancaman mengganggu Pancasila, termasuk G30S/PKI. Karena itu, bangsa Indonesia memperingati 1 Oktober untuk memperkuat tekad menjaga Pancasila. Pemerintah menyatakan hari ini sebagai hari besar nasional, tetapi tidak menjadikannya hari libur.

Prof Hasmyati Tampil dengan Lipa’ Sabbe Bugis Saat Menerima Penghargaan di Simposium Internasional Malaysia

Setiap upacara ini menghadirkan pembacaan ikrar. Teks ikrar menekankan bahwa sejak kemerdekaan, bangsa Indonesia menghadapi banyak rongrongan terhadap Pancasila. Rakyat membulatkan tekad mempertahankan dan mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Meski begitu, Hari Kesaktian Pancasila memunculkan kontroversi. Sejumlah akademisi, termasuk dari Pusat Studi Pancasila UGM, menilai Orde Baru menggunakan peringatan ini untuk kepentingan politik. Mereka menegaskan bahwa peristiwa G30S/PKI tidak selalu berhubungan langsung dengan upaya mengganti Pancasila, sehingga istilah “kesaktian” lebih mencerminkan legitimasi politik daripada fakta sejarah. Banyak pihak juga menilai isu kebangkitan PKI yang sering muncul hanya mencerminkan politisasi sejarah.

Hari Kesaktian Pancasila akhirnya menjadi momen refleksi nasional. Terlepas dari kontroversinya, masyarakat memaknai peringatan ini sebagai pengingat untuk menjaga Pancasila secara nyata, bukan sekadar simbol.

Scopus Team Raih Juara 1 Pada National EcoFEB Competition, Mengungguli 143 Tim Dari Seluruh Indonesia

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *