Luwu – Masyarakat Kabupaten Luwu terus berupaya mewujudkan salah satu Asta Cita Prabowo–Gibran, yaitu swasembada pangan. Namun, kerusakan irigasi pertanian Luwu menjadi tantangan besar yang menurunkan produktivitas petani.
Bendungan suplesi Radda yang menjadi sumber utama pengairan di wilayah tersebut mulai beroperasi pada tahun 2023 setelah dibangun pada 2022. Sayangnya, banjir dan longsor pada awal 2024 menghancurkan saluran pengelak, sehingga air tidak lagi mengalir ke area persawahan.
Suyani, ST, Fungsional Ahli Pengairan Kabupaten Luwu, menjelaskan bahwa bendungan itu semula mengairi sekitar 1.000 hektare sawah di dua kecamatan, yaitu Belopa dan Suli, mencakup lima desa: Cimpu, Senga, Cakkeawo, Malela, dan Kasiwiang.
“Sudah tiga kali musim tanam padi, tetapi petani belum bisa mengolah sawahnya. Kami memperkirakan kerugian mencapai Rp80 miliar,” kata Suyani.
Ia meminta pemerintah pusat, provinsi, dan daerah segera mempercepat perbaikan bendungan agar pengairan kembali normal. Suyani menegaskan bahwa 80 persen warga di lima desa itu bekerja sebagai petani sawah yang kini kehilangan penghasilan.
Seorang petani di Desa Cimpu juga mengaku sudah dua tahun tidak bisa menanam padi karena air tidak lagi mengalir ke sawahnya. Ia berharap pemerintah segera memberikan bantuan perbaikan agar petani bisa kembali berproduksi dan memenuhi kebutuhan pangan daerah.
Dengan perbaikan cepat, irigasi pertanian Luwu bisa kembali berfungsi optimal dan mendukung ketahanan pangan di Kabupaten Luwu.





Komentar