Oleh: Akmal (Ketua umum Gappembar komisariat UINAM)
Makassar – Di usia ke-59, Gabungan Pemuda Pelajar Mahasiswa Barru (Gappembar), bukan lagi sekedar organisasi kedaerahan yang lahir dari idealisme pemuda Barru. Ia menjelma menjadi ruang belajar, ruang berkumpul, ruang bertumbuh, dan ruang mengabdi. Dari generasi ke generasi, Gappembar memainkan peran sebagai peta mental bagi anak-anak Barru yang merantau mencari ilmu: tempat pulang, tempat menemukan arah, tempat belajar menjadi manusia yang bermanfaat.
Namun usia panjang tidak otomatis menghadirkan relevansi. Di tengah cepatnya arus digitalisasi, transformasi sosial, dan derasnya pengaruh global, Gappembar menghadapi pertanyaan mendasar: Apakah kita masih relevan bagi zaman yang terus bergerak?
Selama hampir enam dekade, organisasi ini melahirkan tokoh-tokoh yang kini memegang peranan di berbagai sektor. Mereka menunjukkan bahwa Gappembar tidak berdiri sebagai organisasi biasa, melainkan sebagai ruang pembentukan karakter dan intelektualitas. Namun generasi hari ini menghadapi tantangan berbeda tantangan yang tidak cukup dijawab dengan romantisme sejarah, tetapi dengan kemampuan membaca, memahami, dan memengaruhi realitas.
Identitas Gappembar tumbuh dari nilai kekeluargaan, keberpihakan pada rakyat, intelektualisme kritis, dan pengabdian. Kita harus terus merawat nilai-nilai itu. Tetapi kita juga perlu menggerakkannya: dari simbol kebersamaan menjadi basis gerakan yang produktif, visioner, dan solutif.
Tuntutan terhadap Kader
Kader hari ini tidak cukup hanya bersuara lantang, tetapi juga wajib berpikir jernih. Tidak cukup hanya kritis, tetapi juga harus mampu menawarkan gagasan. Tidak cukup hadir di ruang-ruang advokasi, tetapi juga harus masuk ke ruang teknologi, riset, ekonomi kreatif, inovasi, dan diplomasi intelektual.
Tantangan masa depan tidak berhenti pada menjaga eksistensi, tetapi menuntut kita memodernisasi nilai tanpa mencabut akar.
Apakah Gappembar siap melangkah sebagai organisasi yang adaptif dan progresif di era digital?
Apakah kader siap memaknai perjuangan bukan hanya melalui demonstrasi, tetapi juga melalui literasi, kebijakan publik, enterpreneurship sosial, dan diplomasi budaya?
Kita tidak menemukan jawabannya pada dokumen organisasi, tetapi pada komitmen kader hari ini. Milad ke-59 seharusnya menghadirkan momentum reflektif, bukan sekadar selebrasi.
Ini saatnya Gappembar tidak hanya menapaki jejak sejarah, tetapi mulai merancang peta masa depan. Ini saatnya kader memahami bahwa perubahan tidak datang karena kita menunggu, tetapi karena kita bergerak.
Jika generasi sebelumnya membangun fondasi, maka generasi hari ini mengemban tugas memperluas bangunannya agar Gappembar tetap menjadi organisasi yang hidup, dibutuhkan, dan tumbuh melintasi zaman.
Pada akhirnya, organisasi ini bertahan bukan karena usianya, tetapi karena manfaat yang mampu kita hadirkan. Selamat Milad ke-59, Gappembar. Semoga panjang umur perjuangan dan semakin jelas arah masa depan.





Komentar