Close sidebar
Advertisement Advertisement
Nasional Opini Pendidikan Teknologi

Wamendiktisaintek Stella: AI Bisa “Bohong”, Pentingnya Kemampuan Evaluasi di Era Digital

Prof Stella Christie

Jakarta — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengungkapkan bahwa kecerdasan buatan (AI) tidak selalu memberikan hasil yang akurat. Dalam konteks menghitung peluang Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026, AI justru menunjukkan kelemahan.

Hal tersebut disampaikan Stella saat menghadiri Simposium Integrasi Kebijakan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Sektor Digital Informal di Jakarta, Rabu (11/6). Ia menceritakan bahwa sebelum pertandingan timnas Indonesia melawan China dalam lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2026, ia bersama timnya mencoba menghitung kemungkinan skenario kelolosan. Dari enam pertandingan tersisa, terdapat 729 kombinasi hasil yang mungkin terjadi.

Scopus Team Raih Juara 1 Pada National EcoFEB Competition, Mengungguli 143 Tim Dari Seluruh Indonesia

“Kami meminta AI untuk menghitung probabilitas dari 729 skenario tersebut. Tapi ternyata, AI malah memberikan estimasi, bukan hasil kalkulasi menyeluruh. Ini yang saya sebut AI bisa berbohong,” ungkapnya.

Stella menyebut, AI yang digunakan saat itu adalah Deep Seek, dan ia menegaskan bahwa alat tersebut tidak benar-benar menghitung setiap skenario secara matematis, melainkan memberikan jawaban yang terkesan menyakinkan tetapi tidak sepenuhnya benar.

Menurut Stella, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bahwa kemampuan menggunakan AI saja tidak cukup. Yang lebih dibutuhkan adalah kemampuan berpikir kritis, bernalar, dan mengevaluasi hasil kerja AI.

Fakultas Teknik UNM Gelar Pelatihan Penulisan Berita

“Bagus kalau kita bisa coding, tapi kalau tidak bisa mengevaluasi hasilnya, maka akan celaka. AI hanya alat, yang harus kita kuasai adalah kemampuan mengkritisi output-nya,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya mengintegrasikan kemampuan evaluasi ini ke dalam kurikulum pendidikan AI, sebagai bekal menghadapi era digital yang semakin didominasi oleh kecerdasan buatan. Lebih lanjut, Stella menambahkan bahwa AI membuka peluang besar, terutama bagi individu yang tidak berasal dari jalur pendidikan formal, untuk ikut terlibat dalam dunia kerja dan inovasi.

Namun, kunci keberhasilan bukan pada meniru apa yang bisa dilakukan AI, melainkan bagaimana manusia dapat melengkapi dan menyempurnakan hasil kerja AI melalui evaluasi kritis.

Galeri Colli Pakue Sambut FSD Drawing Day

“Bonus demografi hanya bisa dimanfaatkan jika kita melatih kemampuan manusia untuk tidak sekadar menggunakan teknologi, tapi juga memahami dan mengkritisi cara kerjanya,” pungkasnya. <spl>

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *