Close sidebar
Advertisement Advertisement
Daerah Kesehatan

Wabup Atensi Kasus Kematian Ibu Hamil Takalar

Hengky Yasin

Takalar – Kasus kematian ibu hamil di Sanrobone, Kabupaten Takalar, memantik perhatian serius dari Wakil Bupati Takalar, Hengky Yasin. Ia menegaskan telah meminta penjelasan langsung kepada Pelaksana Tugas Kepala Puskesmas Sanrobone, dr. Suntari, terkait meninggalnya Shelly Agustina Bahar (25) yang diduga terlambat mendapatkan penanganan medis.

Wabup Hengky menyebut peristiwa semacam ini tidak boleh terulang kembali. “Saya sudah minta ke Kapus agar memastikan pelayanan maksimal, jangan sampai ada kejadian serupa,” ujarnya, Jumat (22/8/2025).

Scopus Team Raih Juara 1 Pada National EcoFEB Competition, Mengungguli 143 Tim Dari Seluruh Indonesia

Kronologi Kematian Ibu Hamil

Peristiwa nahas ini terjadi pada Selasa (19/8/2025) sekitar pukul 03.00 dini hari. Shelly, yang sedang hamil delapan bulan, tiba-tiba pingsan di rumahnya dengan gejala busa keluar dari mulut dan hidung. Sang ibu, Herningsyah (45), panik dan segera menuju Puskesmas Sanrobone yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari rumahnya.

Sesampainya di puskesmas, Herningsyah meminta ambulans untuk membawa anaknya ke rumah sakit. Namun, permintaan itu tidak ditindaklanjuti karena alasan tidak ada sopir. “Saya sempat masuk lagi untuk memastikan, tapi tetap tidak ada jawaban,” ungkap Herningsyah dengan wajah kecewa.

Akhirnya, keluarga memutuskan menggunakan mobil pick-up tetangga untuk membawa Shelly ke RSUD Padjonga Daeng Ngalle. Setibanya di ruang persalinan, perawat menyebut kondisi Shelly disebabkan hipertensi. Namun, nyawa ibu muda yang juga bertugas sebagai anggota Satpol PP Takalar itu tidak tertolong.

Galeri Colli Pakue Sambut FSD Drawing Day

Shelly meninggalkan suami, Niswar (29), yang menikahinya pada September 2024. Herningsyah menuturkan, meski sedang hamil besar, putrinya masih aktif menjalankan tugas sebagai aparat Satpol PP hingga akhir hayatnya.

Evaluasi Pelayanan Puskesmas

Kepala Puskesmas Sanrobone, dr. Suntari, menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban dan masyarakat. Ia berjanji akan melakukan audit internal untuk mengevaluasi pelayanan tenaga kesehatan di bawah tanggung jawabnya. “Kami akan berupaya maksimal memperbaiki pelayanan agar masyarakat Sanrobone mendapatkan penanganan cepat dan tepat,” tegasnya.

Kasus ini menimbulkan sorotan luas karena menyangkut nyawa seorang ibu hamil dan citra pelayanan kesehatan di tingkat puskesmas. Pemerintah daerah menegaskan komitmennya melakukan pembenahan demi memastikan masyarakat memperoleh pelayanan yang layak, cepat, dan humanis.

Jukir Liar Makassar Bantah Rusak Mobil Wisudawan UNM, PD Parkir Siapkan Mediasi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *