Close sidebar
Advertisement Advertisement
Kesehatan Nasional

Hasil Lab Ungkap Penyebab Keracunan MBG, Salmonella & Bacillus cereus Dominasi

ilustrasi hasil lab keracunan MBG
Ilustrasi

Jakarta — Hasil lab keracunan MBG akhirnya keluar dan mengungkap penyebab utama kasus keracunan massal dalam program Makan Bergizi Gratis. Mantan Direktur Penyakit Menular WHO untuk Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menegaskan bahwa temuan ini menjadi peringatan penting bagi pengawasan pangan nasional

Kepala Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat, Ryan Bayusantika Ristandi, menjelaskan bahwa dua bakteri yang paling dominan dalam sampel makanan MBG ialah Salmonella dan Bacillus cereus. Uji laboratorium kimia juga menemukan nitrit pada sebagian kecil sampel. Dari total 163 sampel makanan MBG yang mereka periksa sepanjang Januari–September 2025, hasilnya menunjukkan variasi yang cukup besar.

Scopus Team Raih Juara 1 Pada National EcoFEB Competition, Mengungguli 143 Tim Dari Seluruh Indonesia

Sekitar 72 persen negatif mikrobiologi, sementara 23 persen positif dengan temuan bakteri berbahaya seperti Vibrio cholerae, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, hingga Bacillus cereus. Pada uji kimia, 92 persen negatif dan 8 persen positif nitrit. Dalam periode yang sama, petugas juga mencatat 20 kali kejadian luar biasa (KLB) keracunan MBG di Jawa Barat.

Ryan menambahkan bahwa kebersihan air, peralatan memasak, dan higienitas pekerja dapur sangat memengaruhi keamanan pangan. Pandangan ini sejalan dengan pernyataan Prof. Tjandra. Ia menegaskan bahwa menurut standar WHO, keracunan makanan biasanya muncul karena lima faktor: bakteri, virus, parasit, prion, dan kontaminan kimia. Faktor kimia tersebut mencakup logam berat, polutan organik, serta racun alami.

Temuan ini menegaskan perlunya standar ketat pada rantai produksi makanan program MBG. Proses itu meliputi bahan baku, cara memasak, penyimpanan, dan distribusi. Pemerintah daerah bersama dinas kesehatan serta pengawas pangan juga harus memperkuat audit rutin laboratorium. Mereka perlu melatih tenaga dapur mengenai higienitas dan memastikan koordinasi antarinstansi berjalan baik.

Galeri Colli Pakue Sambut FSD Drawing Day

Meski hasil lab keracunan MBG sudah memberi gambaran awal, Kementerian Kesehatan dan Badan POM harus menindaklanjuti dengan penelitian lebih luas. Pengawasan ketat juga penting agar program MBG tetap berjalan sesuai tujuan awal. Program ini ditujukan untuk menyediakan asupan gizi yang sehat dan aman bagi anak-anak Indonesia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *