Lombok – Sosok Agam, pemandu lokal Gunung Rinjani, tengah menjadi perbincangan hangat publik usai aksinya yang heroik mengevakuasi jenazah pendaki asal Brasil, Juliana De Souza Pereira Marins, viral di media sosial. Tidak hanya menuai pujian di tanah air, Agam juga dipuji oleh masyarakat Brasil atas keberaniannya menembus jurang curam sedalam 600 meter.
Juliana, 26 tahun, dilaporkan tergelincir ke dalam jurang setelah mengalami kelelahan di Pos Cemara Nunggal. Proses pencarian berlangsung dramatis selama beberapa hari hingga akhirnya jenazah ditemukan dan dievakuasi oleh tim relawan yang dipimpin langsung oleh Agam.
Dalam dokumentasi yang diunggah melalui Instagram, Agam memperlihatkan momen-momen kritis saat ia dan timnya memasang anchor di tebing curam, bermalam di ketinggian ekstrem, dan mengevakuasi jenazah dengan penuh kehati-hatian. Aksi ini menjadi simbol keberanian para pemandu lokal yang selama ini jarang mendapat sorotan.
Rekaman Agam yang tampak menggantung di tebing sambil mendampingi jenazah Juliana menyentuh hati banyak orang. Netizen asal Brasil memadati kolom komentarnya dengan ungkapan syukur dan pujian, bahkan menyebutnya sebagai “pahlawan tanpa jubah.”
Apresiasi juga datang dari keluarga dan rekan Juliana. Mereka menilai bahwa Agam dan tim relawan adalah sosok yang paling berjasa dalam operasi penyelamatan, di tengah kritik terhadap lambatnya respon dari pihak otoritas SAR Indonesia.
Yang menarik, Agam ternyata adalah warga asli Kota Makassar, tepatnya dari Kecamatan Mamajang. Ia juga tercatat sebagai alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin. Seorang rekan kampusnya, yang enggan disebut namanya, menyebut Agam telah lama aktif dalam kegiatan pecinta alam dan dikenal memiliki fisik yang luar biasa tangguh.
“Pernah suatu pagi dia datang ke kampus setelah mendaki ke Gunung Bawakaraeng. Siangnya dia balik lagi ke gunung itu karena ada alatnya yang tertinggal, dan malamnya sudah kembali kuliah seperti biasa,” kenang rekannya.
“Seharusnya dapat apresisasi, walaupun saya yakin agam tidak mengharapkan itu. sekedar info, Bukan cuma sekali ini misi penyelamatannya, dulu juga waktu ada pendaki asal Israel jatuh, dia yang turun juga mengevakuasi. Tapi setahu saya pemerintah belum memberi apresiasi apa-apa. bahkan di IG nya sering open donasi untuk pengadaan peralatan penyelamatan.” Tambahnya.
Tragedi ini membuka mata publik tentang pentingnya sistem penanganan darurat di lokasi wisata ekstrem seperti Rinjani. Banyak pihak berharap pemerintah dapat memberikan pelatihan, perlindungan, serta penghargaan yang layak bagi para pemandu lokal seperti Agam yang menjadi garda terdepan dalam situasi krisis.
Sementara itu, Agam sendiri tetap rendah hati. Ia menyebut bahwa yang dilakukannya hanyalah bagian dari tanggung jawab moral sebagai sesama manusia. “Kalau bukan kita, siapa lagi?” ujarnya singkat.





Komentar
Terimakasih Bang Agam