Lombok – Publik menyaksikan kemunculan Sister Hong Lombok ketika Deni memberikan klarifikasi secara langsung pada sabtu (15/11/25). Deni memakai nama dan persona “Dea Lipa” dalam pekerjaannya, lalu menarik perhatian setelah publik mengetahui identitasnya sebagai pria. Ia viral karena tampil feminin, mengenakan hijab, dan menjalani profesi sebagai make-up artist di Lombok Tengah.
Dalam pernyataannya, Deni menegaskan bahwa ia tidak menipu siapa pun. Ia menjelaskan bahwa gaya feminitas muncul dari rasa kagum yang ia bawa sejak kecil. Ia juga menceritakan pengalaman bullying pada masa tumbuh kembang yang kemudian memengaruhi cara ia mengekspresikan diri di depan banyak orang.
Deni menolak seluruh tuduhan yang menyangkut tindakan menyimpang atau upaya untuk mengelabui klien. Ia menyatakan bahwa beberapa pelanggan mengetahui identitas aslinya dan tetap memakai jasanya. Ia juga menolak isu penistaan agama, termasuk klaim mengenai dirinya yang salat di barisan perempuan, karena ia menilai tuduhan itu tidak memiliki dasar yang jelas.
Masyarakat menunjukkan berbagai respons terhadap kasus ini. Tokoh agama serta beberapa organisasi di NTB meminta publik menjaga batas sosial dan agama agar situasi seperti ini tidak memicu keresahan baru.
Kasus Sister Hong Lombok kemudian membuka diskusi luas mengenai ekspresi gender, kejujuran dalam profesi, dan respons masyarakat terhadap perubahan sosial. Deni tetap menyatakan keinginannya untuk hidup secara terbuka dan berharap publik memahami posisinya dengan lebih jernih.





Komentar