Takalar – Rabu (21/5), Front Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang Makassar yang tergabung dalam GRAMT (Gerakan Rakyat Anti Monopoli Tanah) melakukan aksi unjuk rasa bersama ratusan petani dari Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Takalar. Mereka menuntut pengembalian ribuan hektar tanah yang diduga dirampas oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 8 dan menolak perpanjangan Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan tersebut.
Sementara itu, Ghazi, Ketua Front Mahasiswa Nasional (FMN) Ranting UNM menjelaskan, aksi ini merupakan kelanjutan perjuangan panjang petani yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
“Masalah ini sebenarnya sudah sangat lama, sudah sejak 1979.”
-Ujar Ghazi.
Mereka menuntut agar pemerintah daerah tidak memberikan rekomendasi perpanjangan HGU kepada PTPN I sebelum tanah yang telah dirampas dikembalikan kepada masyarakat. Selain itu, mereka juga meminta Badan Pertanahan Nasional (BPN) Takalar untuk tidak menerbitkan sertifikat perpanjangan HGU sebelum hak atas tanah dikembalikan.
“Pelibatan masyarakat dalam penyelesaian konflik. Dan tidak ada perpanjangan HGU sebelum penyelesaian konflik agraria antara Warga Polongbangkeng dan PTPN 1 Regional 8.”
-Jelasnya.
Dalam aksi tersebut, petani juga menyoroti janji Pj. Bupati Takalar, Setiawan Aswad, yang sebelumnya berjanji untuk tidak memberikan rekomendasi perpanjangan HGU kepada PTPN XIV Takalar. Namun, hingga saat ini, janji tersebut belum terealisasi.
Mengutip lirik lagu dari Feast “Padi Milik Rakyat”. “Atas nama rakyat, Atas nama rakyat, Siapa berani kerap berbohong atas nama rakyat?Padi milik rakyat, Padi milik rakyat, Siapa berani merampas lumbung padi milik rakyat?, Badan jadi mayat, Badan jadi mayat, Siapa hidup mewah hingga lupa badan jadi mayat?”. Sejatinya adalah sebuah pernyataan perlawanan, yang ditulis oleh band Feast untuk seluruh manusia manusia yang melawan atas ketidakadilan dan kemunafikan pemerintah.
Maka, di hadapan gedung yang besar, tapi tak mengalahkan besarnya harapan dan perjuangan. Suara mereka adalah suara yang terpinggirkan, suara yang dibungkam oleh janji-janji kosong yang terlupakan. Di balik setiap tetes keringat petani, di bawah tanah yang mereka garap sendiri, tersembunyi sebuah perjuangan yang tak akan mati. Tanah yang telah dirampas harus dikembalikan, bukan hanya demi keadilan, tapi demi martabat yang selama ini diinjak. <spl>





Komentar