Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan pada perdagangan Senin (16/6). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,27 persen atau 44 poin ke posisi Rp16.270 per dolar AS. Ini menjadi level terendah sejak masa awal pandemi COVID-19 pada tahun 2020.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS secara global, seiring ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam waktu lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Indeks dolar AS tercatat menguat ke posisi 105,56.
Analis pasar uang dari Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh proyeksi kebijakan The Fed serta ketidakpastian global yang masih tinggi. “Pasar masih menunggu kepastian arah kebijakan suku bunga The Fed. Selama belum ada sinyal pelonggaran, maka dolar akan tetap kuat,” ujarnya, Senin (16/6).
Selain itu, faktor defisit transaksi berjalan serta sentimen dari data ekonomi domestik yang belum menunjukkan perbaikan signifikan turut membebani nilai tukar rupiah. Bank Indonesia sebelumnya telah menyatakan siap melakukan intervensi di pasar valuta asing dan obligasi guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Namun, pelemahan yang cukup dalam hari ini menunjukkan tekanan pasar global masih dominan. Meskipun ada upaya dari otoritas moneter domestik, dinamika eksternal yang kuat menjadi tantangan utama bagi stabilitas mata uang nasional saat ini. <spl>





Komentar