Maros – Menteri Kebudayaan Fadli Zon membuka Festival Gau’ Maraja Leang-Leang 2025 di Lapangan Pallantikang, Maros, Sulawesi Selatan, Jumat (4/7/2025). Festival ini sekaligus memperingati Hari Jadi ke-66 Kabupaten Maros dan menyita perhatian tokoh nasional dan ribuan masyarakat.
Dalam sambutan, Fadli Zon menyebut Maros sebagai wilayah yang menyimpan jejak peradaban manusia tertua di dunia saat ini. Ia menegaskan bahwa lukisan tangan di Leang Karampuang berusia 51.200 tahun menjadi bukti sejarah budaya luar biasa.
“Leang-Leang bukan hanya kebanggaan Maros, tapi juga kebanggaan dunia,” ucapnya di hadapan tamu dan warga Maros. Tema festival tahun ini, “Leang-Leang Goes to Megadiversity,” mengangkat kekayaan flora, fauna, budaya, dan sejarah manusia Indonesia.
Festival ini mencerminkan bahwa budaya dan alam saling menguatkan dalam membentuk jati diri masyarakat Indonesia yang majemuk dan kaya. Fadli Zon mengajak masyarakat menjaga situs budaya dan mempromosikan kekayaan lokal ke tingkat dunia.
Menurutnya, Gau’ Maraja memperkuat karakter bangsa yang berakar pada budaya, sekaligus merespon arus global yang terus bergerak cepat. Festival ini berlangsung selama tiga hari, dari 3 hingga 5 Juli 2025, dengan beragam acara budaya.
Agenda mencakup simposium internasional, pertunjukan Bali Sumangek, pameran bilah pusaka, seni cahaya Leang-Leang, dan pagelaran tradisional lainnya. Pembukaan festival dimeriahkan oleh tari kolosal “Jejak Peradaban” dari 300 siswa SD hingga SMA.
Tarian itu menggambarkan perjalanan budaya manusia dari zaman purba hingga masa kini dengan gerakan khas dan iringan musik daerah. Penampilan pelajar tersebut memukau pengunjung yang memenuhi Lapangan Pallantikang sore itu.
Wakil Gubernur Sulsel, Fatmawati Rusdi, menyebut festival sebagai refleksi perjalanan Maros dan langkah menuju pembangunan yang lebih inklusif. Sementara itu, Bupati Maros, Chaidir Syam, menuturkan bahwa kegiatan terselenggara lewat kolaborasi lintas elemen budaya.
Balai Pelestarian Wilayah XIX, komunitas budaya, dan generasi muda turut terlibat aktif dalam seluruh rangkaian acara Festival Gau’ Maraja. Festival ini mengukuhkan posisi Maros sebagai pusat peradaban dan kekayaan budaya Indonesia di mata dunia. <spl>





Komentar