Bulukumba – Sebanyak 149 kepala keluarga (KK) di Kampung Bungeng, Dusun Mattoangin, Desa Bialo, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, terisolasi total sejak jembatan penghubung ke ibu kota kabupaten hancur dihantam banjir bandang, Sabtu (5/7).
Jembatan yang menghubungkan Desa Bialo dan pusat kota Bulukumba ambruk setelah dihantam batang pohon besar yang terbawa arus. Warga kini tidak punya akses jalan selain meniti tangga bambu setinggi 6 meter yang sangat berisiko.
“Satu-satunya jembatan ini ke Bulukumba dan ke kampung kami pak,” jelas Kepala Dusun Mattoangin, Amraf, Selasa (8/7).
Warga tidak tinggal diam. Mereka secara swadaya menggalang dana, membeli material, dan membangun jembatan darurat. Anak-anak sekolah dasar, pemuda, bahkan ibu-ibu ikut turun tangan. Mereka mengangkat pasir, menyusun batu, mengaduk semen, dan memasang pipa air.
“Harapan kami semoga cepat selesai agar ada akses kami,” kata Mirawati, seorang warga yang ikut membantu.
Sementara itu, pemerintah daerah mulai turun tangan. Tim dari Dinas PU Provinsi Sulsel dan Kabupaten Bulukumba telah mengukur kondisi jembatan dan akan melaporkan temuannya ke Pemprov.
“Pemerintah hadir secara teknis, masyarakat di sini memang miliki aksi gotong royong yang cukup kuat,” ujar Kabid Humas Infokom Pemkab Bulukumba, Andi Ayatullah.
Warga berharap pemerintah segera membangun jembatan permanen. Jembatan yang rusak ini sudah dua kali ambruk, yakni pada 2006 dan kembali pada 2025. Bencana banjir terbaru ini juga merendam 1.600 rumah di Kelurahan Kassimpureng, Ujung Bulu, dan merusak jalan di Kecamatan Kindang.
Pemkab Bulukumba kini menyusun anggaran penanganan bencana menggunakan dana tak terduga. Di sisi lain, Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf mengingatkan warga di bantaran sungai agar tetap siaga menghadapi cuaca ekstrem.





Komentar