Toraja – Suhu dingin yang menusuk tubuh mulai terasa di wilayah pegunungan Toraja. Memasuki puncak musim kemarau, BMKG melaporkan kemunculan fenomena bediding Toraja, yakni kondisi suhu udara ekstrem yang terjadi dari malam hingga pagi hari. Pada Juli 2025, suhu pagi tercatat mencapai 17.8°C hingga 20.8°C.
Fenomena ini kerap muncul di dataran tinggi saat kemarau berlangsung. Langit yang cerah dan udara yang kering mempercepat pelepasan panas bumi setelah matahari terbenam. Akibatnya, suhu permukaan turun drastis dan menyebabkan udara terasa sangat dingin, terutama menjelang subuh.
Untuk memahami fenomena ini lebih jauh, mari kita lihat faktor penyebabnya.
Faktor Penyebab Fenomena Bediding di Toraja
Fenomena bediding terjadi karena kombinasi antara kondisi atmosfer pada musim kemarau dan letak geografis Toraja yang berada di dataran tinggi. Minimnya tutupan awan saat malam hari membuat panas bumi cepat terlepas ke atmosfer, menyebabkan suhu udara turun tajam.
Selain itu, posisi Matahari saat ini berada di titik terjauh dari Bumi (aphelion) dalam siklus revolusinya. Meski begitu, BMKG menyebut faktor ini tidak terlalu berpengaruh terhadap penurunan suhu ekstrem yang terjadi.
Setelah memahami penyebabnya, penting juga untuk melihat bagaimana tren suhu berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Tren Suhu dan Perkiraan BMKG tentang Fenomena Bediding Toraja
Stasiun Meteorologi BMKG Toraja mencatat suhu pagi hari selama Juli 2025 berada di kisaran 17.8°C hingga 20.8°C. Sebelumnya, pada Agustus 2020, suhu terendah pernah menyentuh angka 15.4°C.
BMKG memprediksi bahwa fenomena suhu dingin ini akan berlangsung hingga September 2025, seiring masih berlanjutnya musim kemarau di beberapa wilayah Sulawesi Selatan.
Kondisi ini tentu menimbulkan risiko kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Imbauan BMKG kepada Masyarakat
BMKG mengimbau masyarakat agar menjaga daya tahan tubuh selama fenomena bediding berlangsung. Dalam unggahan Instagram @infobmkg, pihak BMKG menyarankan warga untuk mengonsumsi makanan bergizi, memakai pakaian hangat, dan minum minuman panas.
“Suhu terasa dingin di pagi hari kontras dengan siang yang terik. Jaga dan tingkatkan imunitas,” tulis BMKG.
Dengan memahami fenomena ini, masyarakat bisa lebih siap menghadapi perubahan suhu yang ekstrem selama musim kemarau.





Komentar