Close sidebar
Advertisement Advertisement
Daerah Sulsel Teknologi

Soppeng Genjot Pengelolaan Sampah Ramah Lingkungan

Foto Wabup Soppeng Selle Ks Dalle bersama Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Hanif Faisol Nurofiq

SoppengPemerintah Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, terus mengambil langkah progresif untuk mengatasi persoalan sampah. Fokus utamanya adalah membangun sistem pengelolaan yang ramah lingkungan dan menyeluruh. Pemerintah juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat serta penerapan teknologi modern, mulai dari hulu hingga hilir.

Wakil Bupati Soppeng, Selle Ks Dalle, mengikuti pertemuan nasional di Jakarta. Ia bertemu langsung dengan Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq. Dalam pertemuan tersebut, pemerintah pusat memaparkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN). Data itu menunjukkan bahwa sepanjang 2023, Indonesia menghasilkan 56,63 juta ton sampah. Dari jumlah tersebut, hanya 39 persen yang berhasil terkelola. Sisanya, sekitar 61 persen, masih mencemari lingkungan.

Geger di Unhas Makassar! Mayat Pria Ditemukan di Belakang Gedung Kampus

Merespons kondisi tersebut, Selle menyatakan bahwa Pemkab Soppeng siap menindaklanjuti arahan dari pemerintah pusat. Saat ini, pihaknya tengah menyusun desain pengelolaan sampah berbasis teknologi. Sistem ini akan mencakup semua lini, mulai dari rumah tangga hingga ke fasilitas pengolahan terpadu.

“Penting ada penghargaan seperti Adipura, apalagi kalau bisa sampai Adipura Kencana. Tapi yang lebih penting adalah membuat desain pengolahan sampah secara menyeluruh dari hulu ke hilir. Harus berbasis teknologi ramah lingkungan. Yang paling utama adalah membangun kesadaran masyarakat untuk memilah dan memilih sampah sejak dari rumah,” tegas Selle, Selasa (5/8).

Soppeng Perkuat Infrastruktur dan Jaringan Bank Sampah

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Soppeng, Aryadin, juga menyampaikan pandangannya. Ia menjelaskan bahwa target pengelolaan sampah Soppeng mengacu pada RPJMN 2025–2029. Dalam target itu, sampah diharapkan bisa terkelola 100 persen pada tahun 2029. Caranya dengan memperkuat peran bank sampah, rumah kompos, dan rumah maggot.

Tiga Pemuda di Parepare Bobol Mobil, Gasak 45 Senjata Mainan Senilai Rp15 Juta

Saat ini, Soppeng sudah memiliki lima unit TPS3R. Jaringan bank sampah juga tersebar di desa, sekolah, dan kantor-kantor. Namun, Aryadin mengakui bahwa pengelolaannya masih belum maksimal.

Ia juga mendorong pemanfaatan teknologi seperti RDF (Refuse Derived Fuel) dan WTE (Waste to Energy). Kedua teknologi ini dapat mengubah sampah menjadi energi, baik listrik maupun panas. Meski efisien, teknologi ini membutuhkan investasi yang besar.

“Kalau ingin capai target nasional, kita harus pakai teknologi tinggi. Biayanya memang mahal, tapi bisa menangani 75 persen sampah dengan baik. Karena itu, kita perlu dukungan investor dan juru lobi untuk menjembatani akses anggaran dari pusat,” jelas Aryadin.

RDP DPRD Gowa Berujung Somasi Media, Mekanisme Rapat dan Kebebasan Pers Dipertanyakan

Kabupaten Soppeng kini menapaki jalan transformasi pengelolaan sampah modern. Pemerintah daerah berharap, masyarakat juga ikut ambil bagian dalam gerakan ini. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan yang sehat, bersih, dan berkelanjutan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *