Makassar, SULSEL.NGERTI.ID – Pertarungan prestise infrastruktur olahraga di Makassar kini telah bermetamorfosis menjadi duel gengsi monumental antara dua nakhoda daerah: Gubernur Andi Sudirman Sulaiman dan Wali Kota Munafri Arifuddin (Appi).
Kedua pemimpin ini, masing-masing dengan kekuasaan dan sumber dayanya, beradu cepat menghadirkan stadion sepak bola modernsebuah simbol kekuasaan dan warisan kepemimpinan yang berlokasi dalam satu kecamatan yang sama, Biringkanaya.
Di satu sisi, Andi Sudirman Sulaiman membidik kawasan Sudiang sebagai lokasi proyek Provinsi. Stadion ini bukan sekadar fasilitas olahraga, melainkan representasi kekuatan lobi politiknya di tingkat nasional, terbukti dari kepastian dana APBN hampir Rp675 miliar yang berhasil ia amankan dari Pemerintah Pusat.
Dengan anggaran jumbo dan proses tender yang sudah berjalan di akhir tahun 2025, Sudiang menjadi pertaruhan sang Gubernur untuk menunjukkan eksekusi proyek strategis yang cepat dan masif, seolah menegaskan bahwa pembangunan berskala nasional adalah keahliannya.
Sementara itu, Munafri Arifuddin (Appi) tidak mau tinggal diam. Stadion untuk PSM sudah merupakan Janji Kampanyenya. Melalui Stadion Untia, ia mencoba membuktikan Janjinya sekaligus kemandirian dan inovasi Pemkot.
Alih-alih bergantung pada APBN, Appi memilih skema KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha) dan investasi sebuah langkah berani untuk menarik modal swasta, termasuk investor asing. Proyek Untia adalah manifestasi ambisi Appi untuk memberikan legacy yang tidak hanya modern, tetapi juga berkarakteristik kota.
Maka, dua stadion bernilai miliaran ini di Biringkanaya bukan hanya tentang semen dan baja. Melainkan panggung politik tempat Andi Sudirman dan Appi. Berlomba menunjukkan kapabilitas masing-masing dalam mengelola sumber daya dan merancang visi. Pada akhirnya, “perlombaan” ini menentukan siapa yang akan dikenang sebagai Bapak Pembangun “Kandang Juku Eja” sejati bagi PSM Makassar.
Dalam konteks persaingan ini, bagaimana kedua pemimpin daerah ini akan memastikan pembangunan dua stadion yang berdekatan dapat berjalan selaras, menghindari tumpang tindih fungsi, dan menjamin optimalisasi anggaran demi kepentingan masyarakat luas?
Strategi Berbeda Menuju Groundbreaking
Proyek Stadion Sudiang selangkah lebih pasti. Stadion berkapasitas sekitar 27.000 penonton dengan standar FIFA ini didorong sebagai program strategis. Meskipun sempat terganjal isu anggaran di tahun sebelumnya, komitmen dari Pemerintah Pusat akhirnya terwujud. Proyek ini dipastikan didanai penuh oleh APBN melalui Kementerian Pekerjaan Umum senilai kurang lebih Rp674,9 miliar.
Dengan kepastian dana pusat ini, proses tender telah bergulir di akhir tahun 2025, menargetkan groundbreaking segera dan rampung pada April 2027. Kepastian Sudiang sebagai proyek APBN memperkuat legitimasi Pemprov dalam menghadirkan fasilitas skala regional.
Sebaliknya, Stadion Untia milik Pemkot Makassar menempuh jalur pembiayaan yang lebih berhati-hati terhadap APBD. Wali Kota Munafri Arifuddin memilih skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) atau murni investasi. Strategi ini memungkinkan Pemkot meminimalkan pengeluaran kas daerah sambil tetap menghadirkan stadion bertaraf internasional yang direncanakan dilengkapi teknologi canggih seperti VAR.
Proses negosiasi dengan calon investor (termasuk dari Tiongkok) memakan waktu lebih lama. Ditargetkan konstruksi dimulai paling lambat Tahun 2027. Namun, langkah ini menunjukkan upaya mandiri Pemkot dalam mewujudkan legacy infrastruktur.
Dampak Ganda: Dorongan Ekonomi vs Risiko Tumpang Tindih
“Perlombaan” pembangunan ini menghasilkan dampak positif yang signifikan. Kehadiran dua stadion berstandar modern sekaligus akan menyelesaikan masalah kronis PSM Makassar yang selama ini kesulitan mendapatkan home base permanen yang memenuhi standar liga.
Secara ekonomi, kedua kawasan di Biringkanaya akan menjadi pusat pertumbuhan baru. Pembangunan ini dipastikan menciptakan multiplier effect, mulai dari peningkatan nilai properti, geliat bisnis UMKM, hingga daya tarik pariwisata olahraga.
Namun, semangat persaingan ini juga memunculkan dampak negatif berupa tantangan yang harus diatasi. Tantangan terbesar adalah isu efisiensi dan optimalisasi pemanfaatan. Apakah Makassar benar-benar membutuhkan dua stadion megah dengan fungsi yang serupa dalam satu kecamatan?
Jika keduanya terealisasi, dibutuhkan manajemen event yang cerdas agar tidak terjadi tumpang tindih jadwal dan pemanfaatan yang maksimal. Jangan sampai setelah kedua stadion berdiri namun jarang terpakai atau bahkan terbengkalai karena sepi even.
Lebih lanjut, keberhasilan proyek Untia masih bergantung pada finalisasi skema investasi yang kompleks. Jika proses KPBU gagal atau tertunda, upaya Pemkot bisa terhenti, sementara proyek Sudiang yang didanai APBN melaju lebih cepat. Kegagalan ini berpotensi menimbulkan pertanyaan publik tentang prioritas dan perencanaan anggaran daerah.
Publik Makassar kini menanti, stadion mana yang akan lebih dulu berdiri kokoh dan menjadi kebanggaan. Namun yang jelas, persaingan antara inisiator Provinsi dan Kota ini telah memacu pembangunan infrastruktur olahraga di Sulawesi Selatan, sebuah berkah yang sudah lama dinantikan masyarakat. <red>
artikel ini juga terbit di Ngerti.id





Komentar