Makassar – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Pendidikan Jasmani (PGSD Dikjas) Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Makassar (UNM) mengaku mendapat ancaman dari pihak fakultas setelah terlibat dalam aksi demonstrasi. Dugaan ancaman tersebut masih terduga datang langsung dari Dekan, sebagaimana Aco (nama samaran) sampaikan mahasiswa angkatan 2023, pada Jumat (17/10/2025).
Aco menuturkan bahwa ia di panggil oleh salah satu staf dekan ke ruang pimpinan fakultas pada 9 Oktober lalu. Pemanggilan itu disebut berkaitan dengan keikutsertaannya dalam aksi protes yang dilakukan oleh mahasiswa PGSD.
“Ada ancaman Kak, sama Bu Dekan akan di persulit pada saat penyelesaian, tidak di anggap sebagai mahasiswa,” ujar Aco.
Ia mengungkapkan, saat pertemuan berlangsung, Dekan menunjukkan sikap tegas dan menyampaikan bahwa ia tidak takut terhadap pihak rektorat. Aco bahkan menyebut, sang Dekan memperlihatkan tangkapan layar percakapan pribadinya dengan rektor sebagai bentuk penegasan.
“Katanya Bu Dekan, ‘Saya tidak pernah takut sama rektor, Dek. Kubilangi ji setang itu rektor,’ sambil memperlihatkan chat-nya dengan rektor,” tambah Aco.
Dugaan Ancaman Terhadap Mahasiswa PGSD Dikjas
Aco juga mengaku, Dekan sempat menyinggung posisi program PGSD yang di sebut-sebut memiliki kaitan dengan pejabat universitas. Menurutnya, Dekan memberi peringatan agar berhati-hati terhadap kemungkinan adanya pihak yang memanfaatkan aksi mahasiswa.
“Katanya, ‘Ini PGSD sekarang gara-gara bapaknya WR 4,’ terus nabilang lagi, ‘Siapa yang naungi ini aksimu, WR 3, D (inisial), atau WR 4? Hati-hati ko di manfaatkan,’” jelasnya.
Sementara itu, tekanan serupa juga di rasakan oleh mahasiswa baru (Maba) PGSD angkatan 2025. Cahya (nama samaran), salah satu Maba, mengungkapkan bahwa mereka sempat mendapat ancaman dari dosen agar tidak ikut dalam aksi demonstrasi.
“Ada ancaman dari dosen, Kak. Katanya Maba 2025 itu jangan demo karena ada surat pernyataan yang bisa di DO, dan ada juga dosen yang bilang Maba 25 harus botak supaya bisa terlihat siapa saja yang turun aksi,” ujar Cahya.
Keterangan kedua mahasiswa tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan mahasiswa lainnya. Mereka menilai adanya potensi pembatasan ruang berekspresi di lingkungan kampus. Hingga kini, pihak fakultas belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan tersebut.
Setelah mendengar laporan mahasiswa, reporter mencoba meminta klarifikasi langsung ke ruangan dekan. Namun, saat tiba di lokasi, pintu ruangan tertutup rapat dan tidak ada aktivitas di dalam. Hingga berita ini terbit, redaksi masih berupaya mengonfirmasi kebenaran informasi tersebut kepada pihak fakultas.





Komentar