Close sidebar
Advertisement Advertisement
Daerah Sulsel

Heboh! Dokter Tolak Layani Bayi Tiga Minggu di Toraja, Warga Tuntut Evaluasi

Foto Ilustrasi

Tana Toraja – Kasus dokter tolak layani bayi di Puskesmas Kondodewata langsung menyulut kemarahan publik. Ikatan Pemuda Simbuang Mappak (IPSIM) mengecam tindakan dokter yang menolak melayani pasien bayi berusia tiga minggu. Dokter tersebut berdalih tidak mampu menangani pasien seusia itu.

Ketua Umum IPSIM, Sadrianus, menegaskan bahwa dokter memiliki kewajiban untuk melayani semua pasien, tanpa memandang usia atau kondisi.

Prof Hasmyati Tampil dengan Lipa’ Sabbe Bugis Saat Menerima Penghargaan di Simposium Internasional Malaysia

“Negara menggaji dokter untuk melayani, bukan menghindar. Penolakan ini jelas melanggar etika profesi,” ujarnya.

IPSIM Sebut Dokter Tolak Layani Bayi Sebagai Bentuk Pembiaran

Selanjutnya, IPSIM menyampaikan bahwa keluarga pasien telah memanggil dokter sebanyak tiga kali. Namun, dokter tetap menolak memberikan pelayanan medis kepada bayi tersebut.

Akibatnya, IPSIM menilai kasus dokter tolak layani bayi sebagai bentuk pembiaran yang merusak kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan. Oleh karena itu, mereka meminta pemerintah bertindak cepat.

Scopus Team Raih Juara 1 Pada National EcoFEB Competition, Mengungguli 143 Tim Dari Seluruh Indonesia

IPSIM Dorong Evaluasi dan Sanksi Tegas untuk Dokter

Sebagai tindak lanjut, IPSIM mendorong Bupati Tana Toraja segera mengevaluasi kinerja dokter di Puskesmas Kondodewata. Mereka juga meminta agar pemerintah menjatuhkan sanksi tegas terhadap dokter yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik.

“Kalau pemerintah membiarkan hal ini terus terjadi, masyarakat akan kehilangan kepercayaan pada sistem pelayanan kesehatan,” tegas Sadrianus.

Akses Terbatas Perparah Masalah di Simbuang-Mappak

Selain masalah pelayanan medis, warga di Simbuang dan Mappak juga menghadapi hambatan infrastruktur. Wilayah terpencil ini berbatasan dengan Enrekang, Pinrang, dan Mamasa, namun masih minim perhatian.

Fakultas Teknik UNM Gelar Pelatihan Penulisan Berita

Sebelumnya, warga terpaksa menandu jenazah karena ambulans tidak bisa melewati jalan berlumpur. Bahkan, seorang ibu mengalami keguguran saat ditandu melewati jalan yang rusak parah. Oleh karena itu, masyarakat meminta perhatian menyeluruh, bukan hanya pada tenaga medis, tetapi juga akses jalan.

Sampai saat ini, pihak Puskesmas Kondodewata belum memberikan pernyataan resmi. Masyarakat masih menunggu langkah konkret dari pemerintah agar insiden ini tidak terulang kembali.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *