Jeneponto – Suasana haru dan ketegangan mewarnai penertiban ratusan lapak liar di Pasar Karisa, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto, Kamis (31/7). Pemerintah daerah mengerahkan tim gabungan untuk menggusur lapak para pedagang yang selama ini berjualan di trotoar.
Dalam proses penertiban ini, seorang pedagang wanita histeris saat mengetahui lapaknya masuk daftar pembongkaran. Perempuan itu menangis dan memukul karung dagangannya, lalu ia mendatangi Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jeneponto, Manrancai Sally, sambil meluapkan protes dengan kata-kata keras.
“Prabowo, tolong rakyatmu! Kami ditindas, ini tidak adil!” teriaknya dengan lantang.
Ia bersikeras tidak akan pindah ke pasar darurat jika pemerintah masih membiarkan pedagang lain tetap berjualan di luar.
“Semua pedagang harus masuk tanpa terkecuali. Kalau pemerintah membiarkan sebagian tetap di luar, berarti pemerintah berlaku pilih kasih,” ujarnya dengan nada kecewa.
Sebagian Pedagang Ikut Pindah Secara Mandiri di Pasar Karisa
Tidak semua pedagang menolak penertiban. Hj Sia, pedagang jagung dan kacang, tetap berjualan di pinggir pasar sambil menunggu petugas memindahkannya ke lokasi baru. Ia memilih tidak melawan kebijakan pemerintah dan menyatakan kesiapannya untuk membongkar sendiri lapaknya.
“Saya belum membongkar lapak karena khawatir barang dagangan saya basah, tapi sekarang saya sedang membangun lapak baru di dalam pasar darurat,” ujar Hj Sia saat berteduh di bawah hujan gerimis.
Ia melanjutkan, “Sejak kebakaran besar melanda Pasar Karisa pada 2020, saya langsung menempati area ini karena pemerintah menempatkan saya di sini. Sejak itu, saya tidak pernah berjualan di tempat lain.”
Tim gabungan dari Satpol PP, TNI-Polri, Dinas Perhubungan, Dinas Lingkungan Hidup, dan Disperindag Jeneponto membongkar sekitar 250 lapak yang para pedagang bangun di atas trotoar dan badan jalan.
Manrancai Sally menjelaskan bahwa pihaknya telah menyampaikan surat pemberitahuan kepada para pedagang sejak sebulan sebelumnya. “Kami sudah edukasi dan beri pemberitahuan tiga hari lalu melalui kepala pasar,” ujarnya.
Manrancai memimpin apel dan mengarahkan pedagang masuk pasar darurat demi menata ulang pasar agar tertib dan tidak semrawut.
Ia menyebut bahwa sebagian pedagang belum membongkar lapaknya karena masih menunggu angkutan barang, namun sudah menyatakan kesediaan untuk pindah. “Mereka berjanji akan bongkar sendiri begitu angkutan tiba,” ungkapnya.
Dalam mengantisipasi hambatan teknis di lapangan, pemerintah juga menyiagakan alat berat seperti loader. “Kami siapkan loader, tapi mudah-mudahan tidak perlu digunakan karena kami mengutamakan pendekatan persuasif,” tutur Manrancai.
Penertiban ini menjadi bukti bahwa Pemkab Jeneponto berkomitmen menata ulang kawasan pasar secara menyeluruh demi menciptakan ruang publik yang tertib, aman, dan layak bagi seluruh masyarakat.





Komentar