Takalar – Publik kembali menyoroti Pemerintah Kabupaten Takalar setelah mencuat dugaan penggelapan bagian selasar rumah adat bersejarah, Balla Lompoa. Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye, pada Kamis (17/7) di lokasi rumah adat tersebut.
Saat sidak, Bupati Daeng Manye mendapati selasar kayu rumah adat di samping rumah jabatannya sudah tidak ada.
Pemerintah Kabupaten Takalar memindahkan bangunan itu ke Baruga Karaeng Bainea saat masa pemerintahan Bupati Syamsari Kitta. Namun, selasar yang menjadi bagian penting dari struktur rumah adat itu tidak terlihat di lokasi baru.
Daeng Manye menegaskan kepada jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, “Saya minta kalian clear and clean dulu aset pemda rumah adat Balla Lompoa ini sebelum melakukan revitalisasi.”
Hilangnya bagian bangunan bersejarah ini menuai reaksi keras dari berbagai kalangan, termasuk akademisi dan tokoh adat. Prof Aminuddin Salle mendesak aparat penegak hukum segera menyelidiki dugaan penggelapan tersebut dan mengungkap siapa pihak yang harus bertanggung jawab.
“Aparat penegak hukum harus segera turun tangan menyelidiki raibnya bagian penting dari bangunan bersejarah tersebut,” ungkap Prof Aminuddin.
Ia menegaskan bahwa pemerintah telah menetapkan rumah adat Balla Lompoa sebagai Museum Daerah Balla Appaka, yang mencerminkan kebanggaan sejarah dan budaya masyarakat Takalar. Oleh karena itu, masyarakat dan pihak terkait harus menjaga aset budaya ini dan tidak boleh mengabaikannya, apalagi mengorbankannya demi kepentingan pribadi.
Prof Aminuddin juga berharap agar museum tersebut dapat berkembang menjadi pusat kegiatan budaya dan pariwisata lokal yang terintegrasi, sekaligus menjadi ruang edukasi generasi muda tentang sejarah dan warisan leluhur.
“Warisan budaya tidak boleh dirusak diam-diam. Kita semua bertanggung jawab menjaganya,” pungkasnya.





Komentar