Takalar – Universitas Muslim Indonesia (UMI) memperkuat komitmennya terhadap dunia pendidikan pesantren melalui kunjungan ke Pesantren Sanrobone, Kabupaten Takalar, Senin (18/8/2025). Kunjungan ini turut hadir Wakil Bupati Takalar, Hengky Yasin, bersama jajaran pimpinan UMI.
Pesantren Sanrobone yang menaungi Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) merupakan pesantren tertua di Takalar. Sejak awal berdiri, pesantren ini menjadi binaan UMI, sehingga pengembangan dan pemberdayaan kawasan pesantren terus menjadi perhatian utama. Ketua Pembinaan Yayasan Wakaf UMI, Prof Mansyur Ramly, menjelaskan bahwa kunjungan kali ini juga terkait bantuan dari Kemnaker RI melalui Balai Latihan Kerja berupa bangunan workshop kejuruan multimedia.
“Pesantren ini menunjukkan banyak kemajuan, apalagi sudah ada dukungan dari Kemnaker RI. Bantuan ini bisa membuka jalan santri untuk menambah keterampilan baru,” jelas Prof Mansyur. Ia menambahkan, fasilitas tambahan seperti kolam ikan bioflok dan wadah hidroponik juga bisa dimanfaatkan sebagai media pembelajaran keterampilan.
Pengembangan Pesantren
Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Prof Masrurah Mokhtar, menegaskan bahwa lahan pesantren akan difungsikan lebih maksimal, khususnya untuk mendukung usaha kecil menengah (UMKM) berbasis pesantren. “Lahan kosong ini akan kita garap agar menjadi usaha produktif yang bisa membantu biaya operasional pesantren. Program UMI sekarang berfokus memajukan seluruh pesantren,” katanya.
Wakil Bupati Takalar, Hengky Yasin, menyampaikan dukungan penuh terhadap rencana pengembangan tersebut. Menurutnya, pesantren Sanrobone yang telah berdiri sejak 40 tahun lalu memiliki peran penting bagi masyarakat. Ia berharap kolaborasi pemerintah daerah, UMI, dan pesantren mampu menghadirkan manfaat yang lebih luas. Hengky juga menilai komoditi unggulan daerah seperti jagung dan cabai berpotensi menjadi bidang usaha santri.
Sementara itu, Kepala Pesantren Sanrobone, Rusdiadi, menuturkan bahwa pesantren saat ini memiliki 100 santri dan santriwati dengan ratusan lulusan yang sudah tersebar. Ia berharap kehadiran bantuan dan program pengembangan ini bisa meningkatkan keterampilan santri sekaligus memperkuat identitas pesantren sebagai pusat pendidikan praktis.
“Pesantren ini memiliki ciri khas yang menekankan pembinaan praktis sekaligus hafalan Al-Qur’an. Dengan bantuan ini, kami yakin pesantren semakin diminati orang tua untuk menyekolahkan anaknya,” tandas Rusdiadi.





Komentar