Close sidebar
Advertisement Advertisement
Kesehatan Kuliner

Ikan Hiu di Menu MBG, Fakta Merkuri dan Bahayanya Kesehatan

ikan hiu di menu MBG
Ilustrasi ikan hiu jadi menu MBG

Kesehatan – Kasus keracunan massal yang menimpa siswa di Kalimantan Barat akibat menu Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu perdebatan. Banyak pihak menduga ikan hiu menjadi salah satu bahan masakan. Publik segera mempertanyakan keamanan konsumsi hiu.

Masyarakat sejak lama percaya ikan hiu bermanfaat. Mereka menganggap sirip hiu mampu meningkatkan stamina, menguatkan tubuh, hingga berfungsi sebagai obat tradisional. Beberapa restoran masih menyajikan sup sirip hiu sebagai hidangan mewah. Namun para ahli menegaskan klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah. Penelitian justru menunjukkan konsumsi hiu membawa risiko serius bagi kesehatan.

35 Siswa di Maros Diduga Keracunan Usai Bukber di SMPN 3 Camba, Puluhan Dirawat

Hiu sebagai predator puncak mengalami proses bioakumulasi. Tubuhnya menumpuk logam berat, termasuk merkuri, dari rantai makanan laut. Data menunjukkan daging hiu rata-rata mengandung merkuri 0,979 ppm, jauh di atas ambang batas aman.

Badan POM bersama peneliti menyatakan ikan dengan kadar merkuri tinggi dapat merusak sistem saraf, mengganggu fungsi ginjal dan hati, menurunkan kesuburan, bahkan memicu kanker. Ibu hamil yang mengonsumsi hiu juga berisiko karena merkuri bisa menembus plasenta dan mengganggu perkembangan janin.

Fakta tersebut memperlihatkan bahaya konsumsi hiu, apalagi dalam menu massal untuk anak sekolah. Selain ancaman kesehatan, aturan hukum juga melarang praktik ini. Pemerintah Indonesia sudah melarang eksploitasi sejumlah spesies hiu, termasuk hiu paus yang dilindungi penuh. Meski begitu, praktik penangkapan dan konsumsi hiu masih berlangsung di beberapa daerah, sehingga aparat harus menegakkan hukum dengan lebih tegas.

Kisah Cipa, Usia 29 Tahun Terkena Diabetes Akibat FOMO Makanan Manis Viral

Masyarakat mengenal berbagai kuliner hiu, mulai dari sup sirip hiu, daging hiu goreng, hingga olahan tradisional di pesisir. Namun penggunaan hiu dalam program pemerintah seperti MBG bukan hanya menimbulkan risiko kesehatan, tetapi juga bertentangan dengan konservasi laut.

Kesimpulannya, mitos manfaat hiu tidak sebanding dengan risiko kesehatan dan kerusakan lingkungan yang muncul. Pengelola MBG perlu memilih sumber protein yang aman, sehat, dan sesuai aturan. Edukasi publik harus berjalan agar masyarakat memahami bahaya merkuri pada ikan hiu dan berhenti menggunakannya dalam menu harian.

DEMA FKIK FKIK UIN Alauddin, Layanan Kesehatan Gratis dan Peduli Lingkungan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *