Makassar — Dalam khotbah Idul Adha 1446 H yang berlangsung di Masjid Al Markaz Al Islami, Makassar, Jumat (6/6), Guru Besar UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. Darussalam Syamsuddin, M.Ag, menekankan bahwa ibadah kurban bukan sekadar ritual spiritual, melainkan sarana memperkuat kepekaan sosial dan solidaritas antarumat.
“Ketika Nabi yang mulia mengatasnamakan kurbannya untuk dirinya, dan semua umatnya yang tidak mampu, beliau menegaskan ibadah kurban sebagai ibadah sosial,” ujar Prof. Darussalam dalam khotbahnya di hadapan ribuan jamaah.
Ia menjelaskan bahwa esensi kurban bukan semata-mata untuk meningkatkan kualitas spiritual pribadi, melainkan tentang bagaimana seorang muslim mampu menunjukkan empati dan kepedulian terhadap sesama. Menurutnya, ibadah kurban harus dilihat sebagai bentuk solidaritas sosial.
“Bukan pula kesempatan buat orang kaya untuk menunjukkan kesalehan dengan harta yang dimiliki. Dengan ibadah kurban seorang muslim memperkuat kepekaan sosial terhadap sesama manusia,” jelasnya. “Bukan pula kesempatan buat orang kaya untuk menunjukkan kesalehan dengan harta yang dimiliki. Dengan ibadah kurban seorang muslim memperkuat kepekaan sosial terhadap sesama manusia,” jelasnya.
Prof. Darussalam juga menyoroti bahwa seluruh ibadah dalam Islam memiliki dimensi sosial. Ia mencontohkan bagaimana salat, puasa, haji, dan kurban semuanya mengandung hikmah untuk mempererat hubungan antarindividu dalam masyarakat. “Semua ibadah dalam Islam mengandung hikmah sosial terhadap sesama, kenapa salat diakhiri dengan salam, kenapa puasa diakhiri dengan zakat, kenapa haji diakhiri dengan kurban,” katanya. “Yang ingin dicapai Islam adalah ketakwaan kolektif, ketakwaan komunal, ketakwaan bersama,” imbuhnya.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa kurban sejatinya bertujuan menciptakan interaksi sosial antara yang mampu dan yang membutuhkan, guna memperkuat rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial. “Ibadah kurban dimaksudkan agar terjadi sosial interaktif, yang mampu membantu saudara-saudaranya yang tidak mampu, dan yang tidak mampu merasa terayomi. Hasil akhirnya adalah kebersamaan, keberpihakan, dan kesetiakawanan sosial,” terang Prof. Darussalam.
Ia menutup khotbahnya dengan mengingatkan bahwa kurban yang diterima adalah hewan tertentu yang disembelih dengan niat ikhlas serta dilakukan sesuai syariat pada waktu yang telah ditentukan. “Karena itu, kurban yang diterima adalah binatang tertentu yang disembelih dengan niat ikhlas dan cara tertentu sesudah salat Idul Adha sampai hari-hari tasyrik berakhir,” pungkasnya. <spl>





Komentar