Blitar — Aksi tiga mahasiswa di Blitar, Jawa Timur, yang membentangkan poster berisi kritik terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berujung pada tindakan pengamanan dari Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Insiden ini terjadi saat rombongan Wapres melintas di kota tersebut dan terekam dalam video yang kini ramai beredar di media sosial.
Dalam rekaman yang tersebar, terlihat sejumlah mahasiswa mencoba membentangkan poster kertas di jalur yang akan dilewati kendaraan dinas Wapres Gibran. Namun, belum sempat sepenuhnya terbuka, beberapa anggota Paspampres dengan sigap langsung menghampiri mereka dan mengambil paksa poster yang dibawa. Bahkan, poster itu sempat dirusak oleh salah satu anggota pengamanan.
Wakapolres Blitar Kota, Kompol Subiyantana, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia menyebut bahwa tindakan tersebut diambil demi alasan keamanan dan sterilisasi jalur VVIP, sebagaimana protokol tetap saat pejabat negara melintas. “Informasinya mahasiswa itu membawa poster mau menerobos rombongan itu sehingga dihalau,” ujar Subiyantana pada, Kamis (19/6).
Meskipun tidak menjelaskan secara rinci isi dari poster yang dibawa oleh mahasiswa, Subiyantana menegaskan bahwa tidak ada penangkapan yang dilakukan terhadap ketiganya. Mereka hanya diminta menjauh dari lokasi dan tidak dibawa ke kantor polisi. “Ketiganya sekarang sudah dipulangin, wong hanya dihalau suruh minggir saja,” jelasnya.
Menurutnya, sesuai dengan ketentuan pengamanan tamu negara, jalur yang dilintasi harus dalam kondisi steril dari segala aktivitas ataupun benda yang tidak teridentifikasi, termasuk poster sekalipun. Insiden ini menuai perhatian publik, terutama di media sosial, mengingat kritik yang disampaikan mahasiswa merupakan bagian dari ekspresi dalam demokrasi. Namun di sisi lain, protokol pengamanan pejabat negara juga mengharuskan wilayah steril dari potensi gangguan sekecil apa pun.
Pihak kepolisian dan pengamanan hingga saat ini belum memberikan penjelasan lanjutan terkait apakah ada pendekatan atau klarifikasi lanjutan terhadap para mahasiswa tersebut maupun pihak kampus. Namun yang pasti, insiden ini menambah deretan dinamika hubungan antara pengamanan negara dan kebebasan berekspresi publik di ruang terbuka. <spl>





Komentar