Papua – Dalam rentang empat hari dramatis pada pertengahan Mei 2025, gabungan aparat TNI‑Polri menorehkan operasi terbesar tahun ini di Papua Tengah. Satuan Tugas (Satgas) Habema terlibat kontak senjata sengit dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) atau Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Hitadipa dan Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya.
Kontak pertama meletus Selasa pagi, 13 Mei 2025, ketika prajurit Habema menyisir Kampung Titigi hingga Sugapa Lama. Baku tembak berlanjut hingga Rabu dini hari, 14 Mei, menewaskan 18 anggota KKB yang dipimpin trio separatis – Daniel Aibon Kogoya, Undius Kogoya, dan Josua Waker. Aparat juga mengamankan dua pucuk senjata (satu AK‑47 organik, satu rakitan), puluhan butir amunisi berbagai kaliber, busur‑anak panah, bendera Bintang Kejorah, dan sejumlah alat komunikasi. Seluruh personel TNI dilaporkan selamat, namun tetap disiagakan di sektor‑sektor rawan guna menghalau pergerakan sisa kelompok.
Serangan balasan kelompok bersenjata tak terhindarkan. Pada Jumat siang, 16 Mei, bentrokan berlanjut di Putaran Philips, Kilometer 50 Distrik Uwapa, Kabupaten Nabire. Dua anggota KKB, Ham Dumupa alias HD (25) dan Amoye Pigai alias Martinus Pigai (MP), tewas ditembak polisi. Di sisi lain, dua anggota Polri gugur setelah terkena tembakan balik saat membantu pengamanan jalur evakuasi korban.
Komandan Satgas Media Koops Habema, Letkol Inf Iwan Dwi Prihartono, menegaskan bahwa operasi penyisiran akan diteruskan hingga kawasan Sugapa dan Bambu Kuning benar‑benar steril dari aktivitas kelompok bersenjata.
“Pasukan masih bersiaga penuh untuk mencegah pergerakan sisa KKB yang coba menembus perimeter,” ujarnya, Kamis, 15 Mei.
Lonjakan eskalasi ini menambah panjang daftar korban konflik bersenjata di Papua Tengah sepanjang 2025. Pemerintah pusat kembali menekankan pendekatan keamanan terukur sekaligus mendorong dialog damai. Namun, bagi warga Intan Jaya, dentuman senjata di malam hari masih menjadi kenyataan pahit.
Operasi Habema menyisakan pesan jelas: negara terus berusaha menegakkan kedaulatan di Bumi Cenderawasih, sekaligus menanggung risiko kehilangan putra‑putri terbaiknya. Tantangan berikutnya ialah memastikan stabilitas pasca‑operasi, memulihkan rasa aman masyarakat, dan membuka ruang rekonsiliasi agar lingkar kekerasan tak berulang. <spl>





Komentar