Close sidebar
Advertisement Advertisement
Daerah Peristiwa Sulsel

Kebakaran Asrama Pesantren di Parepare Dipicu Korsleting, Puluhan Santri Kehilangan Tempat Tinggal

Foto Kebakaran 3 bangunan asrama pesantren di Parepare

ParepareKebakaran besar menghanguskan tiga unit rumah panggung asrama putra di Pondok Pesantren Zubdatul Asrar NU, Jalan Lappa Anging, Kelurahan Watang Bacukiki, Kecamatan Bacukiki, Sabtu (23/8) pagi. Api muncul sekitar pukul 06.00 WITA dan dengan cepat menjalar ke bangunan lain hingga rata dengan tanah.

Kabid Penanggulangan Kebakaran Dinas Damkar Parepare, Fransiskus, menjelaskan bahwa kebakaran berawal dari dugaan korsleting listrik di salah satu bangunan. Ia menegaskan, tidak ada aktivitas memasak di dalam rumah tersebut sehingga api kemungkinan besar bersumber dari instalasi listrik.

Fakultas Teknik UNM Gelar Pelatihan Penulisan Berita

Setelah menerima laporan, tim damkar bergerak menuju lokasi dengan satu peleton personel. Sebanyak delapan armada dikerahkan, terdiri dari tiga mobil pemadam, tiga tangki suplai air, satu kendaraan dalmas, serta satu unit tambahan. Petugas berusaha memutus penjalaran api agar tidak meluas ke bangunan sekitar, lalu melanjutkan dengan proses pendinginan.

Fransiskus mengingatkan warga agar lebih waspada terhadap potensi kebakaran di musim kemarau. Ia meminta masyarakat rutin memeriksa kondisi instalasi listrik, memastikan keamanan kompor, dan tidak membakar sampah sembarangan. Menurutnya, kebakaran sering muncul karena kelalaian kecil yang kemudian menimbulkan kerugian besar.

Pembina asrama, Nur Hidayat, mengungkapkan api pertama kali terlihat di sekitar KWH listrik salah satu rumah pondok. Api langsung membesar dan menyambar dua bangunan lain yang berdiri berdekatan. Sebanyak 28 santri bersama pembina kehilangan barang pribadi mereka, mulai dari pakaian, sarung, kitab, hingga tabungan santri senilai ratusan ribu rupiah.

Galeri Colli Pakue Sambut FSD Drawing Day

“Awalnya api muncul di rumah tengah, lalu cepat menjalar ke kanan dan kiri. Semua barang anak-anak hangus, termasuk kitab dan pakaian sehari-hari,” ujar Nur Hidayat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *