New Delhi – Amoeba pemakan otak kembali mengguncang India. Pemerintah India mencatat 19 orang meninggal akibat infeksi Naegleria fowleri di Kerala sepanjang 2025. Jumlah kasus naik drastis dibanding tahun lalu, sehingga perhatian publik meningkat tajam.
Pejabat kesehatan melaporkan 72 kasus hingga September, dengan sembilan korban meninggal hanya dalam bulan ini. Tahun lalu, data resmi menunjukkan 36 kasus dengan sembilan kematian. Lonjakan ini membuat otoritas kesehatan segera mengeluarkan peringatan nasional, dan masyarakat langsung memperketat kewaspadaan.
Dokter Altaf Ali dari satuan tugas pemerintah menegaskan bahwa tim medis sudah melakukan tes massal di Kerala. “Kami menggelar pemeriksaan dalam skala besar untuk menemukan sekaligus menangani kasus baru,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa September mencatat 24 kasus baru dan sembilan kematian. Oleh karena itu, pemerintah menilai situasi saat ini jauh lebih serius dibanding periode sebelumnya.
Gejala dan Bahaya Infeksi Amoeba Pemakan Otak
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menjelaskan bahwa amoeba pemakan otak Naegleria fowleri berkembang di perairan hangat seperti sungai dan danau. Organisme ini menyerang tubuh melalui hidung ketika seseorang berenang atau bersentuhan dengan air terkontaminasi. Setelah masuk, amoeba menghancurkan jaringan otak dan memicu gejala mematikan.
Infeksi tergolong langka, tetapi hampir selalu berakhir fatal. CDC mencatat lebih dari 95 persen penderita akhirnya meninggal dunia. Namun, amoeba tidak menular antar manusia. Sebaliknya, organisme ini hanya menginfeksi lewat kontak langsung dengan air hangat tercemar. Dengan demikian, aktivitas berenang di danau atau sungai hangat membawa risiko besar.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menambahkan bahwa gejala awal meliputi sakit kepala, demam, dan muntah. Pasien biasanya mengalami perkembangan cepat menuju kejang, halusinasi, hingga koma. Bahkan, perubahan kondisi dapat terjadi hanya dalam hitungan hari. Meskipun demikian, sebagian masyarakat masih mengabaikan tanda awal, sehingga pencegahan sering terlambat.
Yang mengejutkan, kasus 2025 tidak terkonsentrasi di satu wilayah. Sebaliknya, kasus menyebar ke berbagai daerah Kerala. Dokter Ali menegaskan bahwa penyebaran meluas memperberat beban tim medis. Akibatnya, pemerintah mempercepat edukasi publik sekaligus memperkuat penanganan darurat.
Sejak laporan pertama pada 1962, hampir 500 kasus amoeba pemakan otak tercatat di dunia. Amerika Serikat, India, Pakistan, dan Australia mendominasi jumlah kasus. Terlebih lagi, negara dengan iklim tropis menghadapi risiko lebih tinggi karena suhu air hangat mendukung pertumbuhan amoeba.
Pemerintah India kini mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati saat beraktivitas di perairan alami. Selain itu, tim kesehatan terus gencar menyosialisasikan gejala serta pencegahan. Pada akhirnya, kewaspadaan dan kesadaran publik memegang peran penting untuk menekan penyebaran penyakit mematikan ini.





Komentar