Kendari – Kegiatan bersih-bersih yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di kawasan Eks MTQ Kendari, Jumat pagi (16/5), berubah ricuh akibat pecahnya tawuran antar pelajar. Dua kelompok siswa dari SMK Negeri 1 Kendari dan SMK Negeri 2 Kendari (STM) terlibat bentrok yang sempat mengganggu ketertiban umum dan membahayakan warga sekitar.
Bentrokan terjadi sekitar pukul 08.00 WITA saat para siswa dari berbagai sekolah berkumpul untuk mengikuti kegiatan kebersihan lingkungan. Namun, suasana tiba-tiba memanas ketika dua kelompok pelajar saling ejek hingga berujung pada aksi saling lempar batu dan pemukulan menggunakan kayu. Beberapa pelajar bahkan terlihat membawa benda tumpul lainnya.
Dalam rekaman video amatir yang viral di media sosial, tampak sejumlah siswa mengenakan seragam olahraga dan pramuka berlarian di sekitar lokasi sambil melempar batu ke arah lawannya. Sejumlah guru dan panitia kegiatan sempat berupaya menghentikan keributan, namun tidak mampu mengendalikan situasi. Aparat kepolisian baru tiba beberapa saat setelah kejadian berlangsung.
Menurut keterangan warga dan pihak sekolah, insiden ini diduga dipicu oleh aksi balas dendam atas konflik lama antara pelajar kedua sekolah. Kepala Polresta Kendari, Kombes Pol Muhammad Eka Faturrahman, menyatakan bahwa pihaknya tengah melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi pelaku dan mengungkap motif di balik tawuran tersebut.
“Sudah ada beberapa laporan masuk dari korban. Kami sedang kumpulkan bukti-bukti dan memeriksa rekaman video. Pelajar yang terbukti terlibat akan diproses sesuai hukum yang berlaku,” ujar Kombes Pol Eka Faturrahman.
Akibat tawuran tersebut, beberapa siswa mengalami luka di bagian kepala dan telah mendapatkan perawatan medis. Tidak ada laporan korban jiwa, namun kericuhan sempat membuat lalu lintas di sekitar lokasi terganggu.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara menyayangkan insiden ini dan meminta Dinas Pendidikan untuk segera mengambil langkah pembinaan terhadap sekolah yang terlibat. “Kami berharap sekolah, orang tua, dan seluruh elemen masyarakat bisa bekerja sama mencegah aksi kekerasan seperti ini agar tidak terulang,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Sultra, La Ode Usman.
Tawuran ini menjadi peringatan keras akan pentingnya pengawasan terhadap aktivitas pelajar di luar sekolah, serta perlunya pendidikan karakter yang lebih kuat guna menanamkan nilai-nilai toleransi dan penyelesaian konflik tanpa kekerasan. <ant>





Komentar