Toraja – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menghentikan subsidi penerbangan ke Bandara Toraja karena jumlah penumpang terus menurun. Biaya operasional yang tinggi tidak sebanding dengan pemasukan dari tiket penumpang.
Sekretaris Daerah Sulsel, Jufri Rahman, menjelaskan bahwa bandara harus mandiri secara ekonomi. Ia menilai, ketergantungan pada bantuan pemerintah hanya akan menghambat kemajuan.
“Kalau hanya hidup dari bantuan terus-menerus, bandara tidak akan berkembang,” tegasnya.
Menurut Jufri, masyarakat lebih memilih naik bus. Harga tiket yang lebih murah dan kenyamanan selama perjalanan membuat bus sleeper menjadi pilihan utama.
Pemprov Sulsel Alihkan Dana, Bandara Tak Masuk Rute Prioritas
Tahun ini, Pemprov Sulsel mengalokasikan dana sebesar Rp21 miliar untuk subsidi penerbangan. Namun, mereka mengutamakan lima rute lain yang dinilai lebih potensial: Makassar–Selayar, Makassar–Bone, Bone–Kendari, Makassar–Masamba, dan Masamba–Sorowako.
Kepala Dinas Perhubungan Sulsel, Andi Erwin Terwo, mengungkapkan bahwa pihak maskapai mengalami kesulitan dalam menyediakan pesawat ATR 42. Selain jumlah unitnya terbatas, produsen juga sulit memasok suku cadangnya karena krisis global.
“Kami terus berkoordinasi dengan maskapai dan mitra industri agar rute subsidi ini segera berjalan,” ujarnya.
DPRD Tana Toraja Dorong Pemerintah Hidupkan Kembali Bandara
Anggota DPRD Tana Toraja, Randan Sampetoding, mengajak pemerintah untuk mengaktifkan kembali Bandara Toraja. Menurutnya, bandara ini sangat penting untuk menunjang pariwisata dan konektivitas warga di kawasan pegunungan.
Randan juga mendorong Pemkab Tana Toraja agar memperkuat promosi wisata. Ia menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah dan provinsi dapat menghidupkan jalur penerbangan ke Toraja.
“Bandara Toraja harus menjadi gerbang wisata. Kita tidak boleh membiarkan fasilitas ini terbengkalai,” katanya.





Komentar