Close sidebar
Advertisement Advertisement
Daerah Ekonomi Sulsel

Harga Beras di Bone Melonjak, Warga Terpaksa Kurangi Konsumsi

Foto Pedagang beras di pasar tradisional Bone

Bone – Kenaikan harga beras terus menghantui masyarakat di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Dalam beberapa pekan terakhir, warga mulai merasakan dampaknya, baik dari sisi konsumsi rumah tangga maupun pasokan di lapangan. Ketersediaan beras menyusut, sementara harganya melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp17 ribu per liter untuk kualitas yang sudah disortir.

Plt Kepala Dinas Perdagangan Bone, Andi Zainal Wahyudi, menyampaikan bahwa lonjakan harga terjadi karena pasokan dari pabrik penggilingan menurun. Ia menyebutkan bahwa Perum Bulog menyerap beras dalam jumlah besar, sehingga sisa beras untuk kebutuhan lokal tidak mencukupi. Menurutnya, situasi ini tidak hanya terjadi di Bone, tetapi juga merata di banyak daerah di Indonesia.
“Penyebabnya itu karena pasokan di Pabrik itu berkurang. Karena serapan nya Bulog terlalu tinggi,” ujarnya, pada kamis, (24/7). 

Geger di Unhas Makassar! Mayat Pria Ditemukan di Belakang Gedung Kampus

Beban Berat Konsumsi Harian

Andi Zainal mengungkapkan, rata-rata warga Bone mengonsumsi dua hingga tiga liter beras setiap hari. Dengan harga beras mencapai Rp15 ribu per liter, pengeluaran harian untuk beras saja bisa mencapai Rp50 ribu per keluarga. Ia berharap pemerintah segera menyalurkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) guna menekan gejolak harga di pasaran.

Sementara itu, Nisa (29), seorang ibu rumah tangga di Tanete Riattang, mengaku harus mengurangi porsi makan keluarganya demi menghemat pengeluaran. Ia terpaksa menahan keinginan anak-anaknya yang biasa meminta tambahan nasi. Hal serupa juga dilakukan Melda (30), warga Tanete Riattang Timur, yang mulai mengganti konsumsi beras dengan umbi-umbian agar perut keluarganya tetap terisi.

Di sisi lain, pedagang beras eceran seperti Darmawati mengaku kesulitan memperoleh pasokan. Beberapa distributor bahkan tidak mampu memenuhi permintaan pasar. Ia menjelaskan bahwa beras kualitas rendah kini dijual seharga Rp13 ribu per liter, sedangkan kualitas baik sudah sulit ditemukan. Ia menduga kelangkaan dan kenaikan harga terjadi karena beberapa sentra produksi belum memasuki masa panen.

Tiga Pemuda di Parepare Bobol Mobil, Gasak 45 Senjata Mainan Senilai Rp15 Juta

Nurdiana (27), warga Kelurahan Majang, juga mengeluhkan kondisi ini. Ia menyebut setiap hari harus memasak tiga liter beras untuk keluarganya. Namun dengan harga yang terus melonjak, ia kini terpaksa berhemat dan menurunkan jumlah konsumsi.

“Kami cuma bisa berharap harga segera normal. Kalau terus begini, masyarakat makin tertekan,” ujarnya dengan nada kecewa.

Krisis ini menunjukkan perlunya langkah cepat dan tegas dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk menstabilkan harga dan menjaga ketahanan pangan masyarakat.

Pengusaha Muda Bogor Donasikan Mobil Mewah Jadi Ambulans Gratis

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *