Wajo — Petani di Kecamatan Sabbangparu, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, menghadapi masa sulit akibat anjloknya harga gabah. Sejak awal November, harga gabah kering di tingkat petani hanya berkisar Rp6.200 per kilogram, jauh di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto.
Ambo Amang, salah satu petani di Sabbangparu, mengatakan bahwa Ia menjual gabah hasil panennya ke tengkulak dengan harga yang menurutnya sangat merugikan. “Turun sekali harganya, Pak. Saya jual ke tengkulak dekat rumah cuma Rp6.200 per kilo,” kata Ambo pada Senin (3/11).
Ambo berharap pemerintah segera memperhatikan kondisi petani yang semakin tertekan. Ia meminta kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil agar harga bisa kembali stabil. “Tolong Pak Prabowo dan jajaran buat kebijakan yang pro rakyat. Sekarang rata-rata harga di bawah HPP semua,” ujarnya dengan nada kecewa.
Selain soal harga, Ambo juga menyesalkan kebijakan Bulog yang tidak lagi membeli gabah langsung dari petani. Kondisi itu membuat petani bergantung pada tengkulak yang menentukan harga sepihak. “Tidak dibelimi gabah sama Bulog, jadi kami jual ke pengepul. Kadang sempat naik ke Rp6.800, tapi tetap belum cukup menutup biaya tanam,” jelasnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Bulog Cabang Wajo, Farid Nur, memastikan pihaknya akan menindaklanjuti laporan para petani. Ia menyatakan telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah, TNI, dan Polri untuk menelusuri penyebab harga gabah jatuh di bawah HPP. “Kami koordinasi dengan semua pihak, dan tim Bulog akan turun langsung ke lokasi untuk mengecek kondisi di lapangan,” kata Farid.





Komentar